Monday, April 26, 2010

Menulis Apapun

Jangan heran membaca tulisan ini. Ini hanya tulisan yang memang ingin saya tulis, mungkin tidak ada sesuatu yang spesial. Karena tanga saya bergerak sesuai dengan apa yang ingin saya tulis. Tanpa persiapan, tanpa aba-aba.
Menulis apapun yang ingin saya tulis. Mengeluarkan apapun yang ingin saya katakan. Mau bilang A, B, C, D, E bahkan huruf hiragana jika saya tahu
Ingin menulis tetang apel atau apem. Whatever. Jangan protes. Wong yang punya blog kan saya. Blog kan dunia kata bagi diri sendiri. Salah siapa yang nyasar sampai blog ini? Waduh saya tiba-tiba jadi egois. Sorry beibeh.
Saya menikmatinya. Menulis ini. Sudah saya bilang banyak kata di kepala saya dan saya ingin melihat bahwa mereka nyata. Thats it.
Berbicara cinta.... mhm... mungkin lain kali. Berbicara perjuangan. Lain kali juga saja. Aneh, aneh. Pusing, pusing. Katanya ,seseorang dapat kita nilai dari apa yang kelua dari lisannya. Struktur kalimat yang baik dan sistematis serta kata-kata berbobot menajdi tanda orang itu berisi. (isi apa??? ) lalu membaca tulisan ini, penlaiannya bagaimana? Saya serahkan pada yang lain saja. Wong nilai dari saya aja gak bagus-bagus amat. Mau pake peilaian apa? Penilaian produk, portofolio atau penilaian projek? Hohohoho... jadi ingat kuliah.
Mhm.... jadi ingat seorang dosen. Beliau baik, sangat baiik malah. Tapi maaf... tidak dapat saya pungkiri saya jadi sdiit ngantuk mengikuti kuliahnya. Maaaaf... karena itulah saya dan teman teman sering meminta maaf dalam hati karena mengabaikan kebaikannya. Tapi sekarang saya sudah berlatih agar tidak ngantuk. Saya ingin membalas kebaikan beliau denga bersungguh-sungguh....
Wow... baiklah... sudah sampai mana tulisan ini??? Beanr-benar bias. Baguslah. Setidaknya apa yang ingin saya keluarkan sudah lumayan berbentuk walopun jadinya tulisan abstrak. Mhm.... bisa ngalahin Afandi ne...
piiiiiiiiiiiiiiiiiiiissssssssssss

Sahabat Pingsan


Kali ini sy ingin bercerita tentang seorang sahabat saya. Dia memiliki hoby yang berbeda dari yang lain. Bukan jalan-jalan, bukan fotografi, bukan juga megoleksi barang antik. Hobynya ringan saja. Hanya pura-pura pingsan.Karena itu anda harus waspada jika tiba-tiba menemukan ada seseorang pingsan. Anda harus dapat memastikan bahwa orang itu bukan teman saya. He.
Ketika saya tanya kenapa ia suka pura-pura pingsan. Dia hanya menjawab, entahlah... hanya iseng. Kami yang mendengar alasannya hanya menggeleng tak paham. Baiklah ... semakin terang arti dari kata kata “semua oang punya keunikan sendiri” termasuk dia. Entahlah apakah ini dapat digolongkan kedalam kelompok kecerdasan Multiple Intelligences ala Gardner. Hanya Tuhan yang tahu.
Namun ia memiliki kecintaan besar pada sastra. Baiklah... dalam hal ini kami sama. Tidak hanya ini kesamaan kami, hal lainnya adalah kami sama-sama menyukai dunia menulis. Bedanya hanya pada aliran. Sekarang dia lebih menyukai nonfiksi setelah sebelumnya memuja fiksi. Tapi toh tujuan kami sama.
Sekarang dia sedang bertarung untuk mempertahankan tulisan terbarunya. Saya harap dia cukup kuat agar sikap isengnya tidak muncul. Bisa aneh kalau tiba-tiba di tengah lomba hoby nya yang pura-pura pingsan mendesak ingin disalurkan. Saya harap dia membawa bantal yang bagus.
Akhirnya sampai disini saya menulis tentang dia. Tulisan jalan terus tanpa proses editing atau berpikir lama. Sama seperti yang dikatakan teman saya yang lain.
“tulislah apa yang kau pikirkan, jangan memkirkan apa yang akan kau tulis” dan saya tetap akan meminta pertanggung jawaan dari katakatanya. Karena tulisan saya jadi aneh.

Keluhan Sebentar Saja


Beberapa kali sy sempat melihat bahwa tidak semua orang yang berprofesi dalam bidang pendidikan mampu mendidik dengan baik.
Saya dan teman hanya bisa bengong ketika seseorang dalam hal ini saya panggil X tiba-tiba keluar kelas dan meludah tepat didepan pintu kelas saat kuliah. Sekedar informasi, X bukan mahasiswa. Di waktu berbeda ada Z yang dengan santai mengucapkan kata “ B R e n g s E K” kepada seorang mahasiswa. Kronologisnya seperti ini :
Masih seperti hari yang sama seperti saat Z pertama kali memasuki kelas untuk mengajar. Membawa buku tebal. Rokok. Menyemburkan asap kesana-kemari. Kami berusaha sesopan mungkin mnegur dengan ramai-ramai menutup hidung. Berharap Z bertaubat dan menghentikan kepulan asap rokoknya. Tapi sampai akhir prkuliahan itu hanya mimpi bro....
Mnyedihkan sekali saat itu. Kami merasa benarr-benar kosong. Mata kuliah itu adalah mata kuliah paling malas diikuti. Mengugurkan kewajiban adalah hal paling mudah dilontarkan ketika ada yang bertanya : “ente masuk?”
Namun cahaya cemerlang juga singgah beberapa kali tatkala ilmu yang sebenanya, masuk lewat dosen yang saya beri nama Y. Beliau mengajar dengan sangat baik. Sempurna. Motivator yang baik. Dan inspirator bagi orang lain. Benar-benar bersinar. Ilmu itu benar-benar terasa sampai hati. Ini baru figur pendidik. Nuansa saat beliau pertama kali masuk kelas pun berbeda dengan yang lain. Ini dosen yang benar-benar dosen. Kalau yag pernah saya sebutkan sebelumnya mungkin figuran.
Semoga saya bisa lebih baik. Amin. Sampai di sini dulu. Kata-kata saya sangat kacau. Yang penting keluar dulu keluhan keluhan ini.

Sunday, April 18, 2010

Galeri Cinta di Dunia Helvy


Jika kau mencintai seseorang, kau akan menaruhnya di tempat paling nyaman di hatimu, hingga setiap kali ia menatap matamu, ia temukan dirinya berpijar di sana. Kau tidak akan pernah lelah belajar mengenali diri dan jiwanya hingga ke sumsum tulang. Hidupmu penuh gairah, tak abai sekejap pun atas keberadaannya. Maka sampailah kau pada keputusan itu : kau akan setia pada tiap nafas, getar, gerak saat bersamanya, hingga nyawa berpamitan untuk selamanya pada jasadmu. Bahkan kau masih berharap semua tak akan pernah tamat. Kau mendambakan hari dimana kau dan dia kelak akan dibangkitkan kembali sebagai pasangan, yang terus bergandengan tangan melintasi jalan-jalan asmara, di taman surga-Nya.
Itulah cinta sejati, anakku…

(Helvy Tiana Rosa)

***
Rangkaian kalimat cinta ini saya temukan dengan pose paling cantik pada salah satu ruang di blog Helvy. Saya mencintai kalimat ini, dan saya ingin agar Helvy mengetahui bahwa saya telah menyimpan kalimat-kalimat ini di tempat paling nyaman di hati saya. Begitu menyusuri tiap kata pada rangkaian cinta ini saya merasa begitu hangat. Di dalam sini saya membenarkannya. Mengatakan ”iya” sampai akhir kalimat. Tidak sampai di sana. Saya kemudian menyebarkannya pada beberapa sahabat. Ada yang menulisnya didalam buku catatan, ada yang mengirimkannya lewat sms. Begitulah... dengan cepat rangkaian cinta sejati itu menyebarkan pesonanya pada orang-orang yang mengagumi cinta.

Sejak kecil saya suka dongeng. Saat tidur adalah saat yang saya tunggu. Dongeng dari bibi dan kakak sepupu. Seiring waktu saya mulai membaca sendiri cerita-cerita maupun dongeng yang saya inginkan. Di majalah-majalah anak, saya temukan dongeng-dongeng tentang peri dan penyihir. Atau kadangkala tentang putri dan pangeran. Tentang benci dan cinta juga kejahatan dan kebaikan. Saya menggilai cerita-cerita itu. Saat saya kecil saya membayangkan memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan buku cerita. Ruangan besar dengan buku bertumpuk-tumpuk. Akan saya habiskan waktu membacanya. Menyisiri jejak peri atau mengintip tarian para putri.

Di salah satu majalah anak itulah saya bertemu Faiz. Hanya sekilas. Yang saya ingat kalimat di majalah itu adalah ”jalan kupu-kupu”. Tapi itu benar-benar hanya sekilas. Beberapa tahun kemudian lah yang menghubungkan saya kembali dengan kalimat itu dan mempertemukan saya dengan Helvy. Ya... benar. Saya lebih dulu bertemu dengan puisi cintanya dibandingkan Helvy sendiri.


Sejak dulu saya sering merenung.. orang yang hanya terlihat sekilas, hanya sesaat Tiba-tiba saja memiliki pengaruh kuat di kehidupan mendatang. Sekilas yang mempesona. Sekilas yang menerbitkan sebuah rasa. Yang mungkin saja terlupakan tapi saat waktunya tiba, rasa itu muncul kembali dan menghentakkan maknanya. 


Seingat saya, pertama mengenalnya lewat jaring-jaring merah yang saya temukan terjalin dengan apik. Ia memerangkap hati saya tepat manakala mata saya menelusuri kalimat pembuka jaring-jaring merah. Pertemuan selanjutnya lewat ajakan menuju jalan kupu-kupu. Tulisan sederhana yang kembali mempertemukan saya dengan sosok Helvy. Dunia Helvy bagi saya adalah peta yang memuat sastra dan keluarganya. Salah satu karya dalam galeri dunianya terwujud dari puisi cintanya yang mencintainya seperti surga. Saya harus akui bahwa hal yang membuat saya tertarik lebih dalam pada sosok Helvy adalah Faiz dan jalan kupu-kupunya. 

Membaca karya Faiz membuat saya lebih mengenal Helvy. Saya seperti melihatnya dalam setiap huruf yang dirangkai Faiz untuknya. Mencintaimu seperti surga … kalimat ini juga membuat saya jatuh cinta. Kegombalan yang imut-imut , begitu saya menyebutnya. Jelas ada cinta disana, ada tulus dan tak lupa… iman.
Saya menyukai bacaan tentang cinta. Menggemari perasaan cinta dan menggandrungi puisi cinta. Sebab berbicara tentang cinta tidak akan pernah habis. Sejak dulu kekuatannya telah menjadi legenda. Berkali-kali diangkat dalam cerita dan berkali-kali pula mendapatkan penggemar. 

Pertemuan saya dengan rangkaian cinta Helvy membuat saya jadi sering menyusuri jejak pena kecilnya5. Berharap menemukan hangat lain yang memberi letup-letup rasa di hati. Ketika kembali menyusuri jejak pena kecil Helvy saya kembali pula menemukan cinta dengan pose manis :


Sebab setelah hujan, 
selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi dan memelukmu. 
Aku ingin orang itu selamanya aku…

Kembali sebuah hangat meresap pelan-pelan setelah membacanya. Itu adalah penggalan puisi Helvy di milad Faiz yang ke sebelas. Dalam pikiran saya terbayang pelangi yang melengkung sempurna dengan semburat warna selendang tujuh bidadari. Pelangi yang menenangkan setelah hujan dengan warna cinta aneka rupa. Setiap cinta punya warna sendiri.. stoknya akan sulit sekali habis.

Saya ingin Helvy terus menulis tentang cinta karena ia akan melahirkan hangat di hati. Mungkin Helvy tidak akan pernah tahu berapa banyak yang akan terpikat, yang akan merasa nyaman ataupun kemudian berkeinginan melahirkan cinta sepertinya. Tapi yang jelas... orang yang menemukan jejak cintanya tahu seberapa besar pesona cinta itu menerbitkan hangat dan nyaman di hati. 

Bukankah salah satu hal yang mengobarkan letup rasa di hati Helvy untuk menulis adalah kalimat singkat Putu Wijaya yang dengan sederhana menulis :


” Helvy... menulis adalah berjuang”.

Saat itu kemungkinan besar Putu Wijaya juga tidak tahu bahwa tulisannya lah yang mendendangkan syair semangat bagi Helvy untuk terus menulis. Tapi dengan jelas Helvy tahu dan ia tetap mencatatnya. Begitu juga dengan saya yang telah membaca prasasti cinta Helvy. Saya pun mencatatnya. Dengan pena yang saya beri nama cinta.
Sebelum saya menulis tentang Helvy, saya berpikir keras tentang apa yang paling saya butuhkan jika akan menulis tentangnya. Di saat itulah saya teringat tentang tulisan “cinta” nya pada Putu Wijaya. Bila Helvy termotivasi menulis karena kalimat Putu Wijaya maka saya termotivasi karena tulisan Helvy tentang Putu Wijaya. Ini mungkin bisa disebut sebagai estafet motivasi. Masih dengan kalimat yang sama seperti yang ditulis Putu Wijaya kepada Helvy : “Menulis adalah berjuang”.


Saya ingin melanjutkan estafet motivasi ini pada orang lain. Dan... di sinilah saya dengan tulisan ini, yang merupakan sebuah jejak baru perjuangan saya. Di saat ini, kembali terlintas rangkaian kalimat cinta itu... rangkaian kalimat yang membuat saya merasakan hangat di dalam sini. Rangkaian cinta dari puisi yang ingin menjadi pelangi bagi orang-orang yang ia cintai.


Jika kau mencintai seseorang..
kau akan menaruhnya di tempat paling nyaman di hatimu.



Saya mencintai sastra dan dunia menulis, sehingga saya ingin menyimpannya di tempat paling nyaman di hati ini... 
Begitupun jika suatu saat saya menemukan cinta saya... 

Mataram, 14 April 2010

Note:

Terima kasih bunda Helvy...
atas rangkaian kalimat cinta
itu..

Wednesday, April 14, 2010

Role Playing

Dolo ini catatan lama. didapat dari berbagai sumber juga. mungkin ada yang nyari. monggo...



STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA LISAN
“Bermain Peran”
Latar Belakang

“ Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berfikir anak”.

Kalimat di atas merupakan sebuah dasar bagi para pendidik untuk berusaha menciptakan metoda dan strategi pembelajaran yang menyenangkan. Ada beberapa strategi pembelajaran yang selama ini diibaratkan sebuah bank . peserta didik diberikan pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat dan bermanfaat bagi masa depannya. Peserta didik lantas diperlakukan sebagai bejana kosong yang akan diisi sebagai sarana tabungan. Guru adalah subjek aktif, sedangkan peserta didik adalah subjek pasif yang penurut dan diperlakukan sama. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dengan guru memberikan informasi yang harus diserap oleh peserta didik yang wajib diingat dan dihapalkan. Berikut daftar antagonis pendidikan gaya konvensional yang termasuk faktor pencipta rasa jenuh.
1. Guru mengajar sedangkan murid belajar
2. Guru tahu segalanya dan murid tidak tahu apa-apa
3. Guru berfikir dan murid hanya difikirkan
4. Guru bicara sedangkan murid mendengarkan
5. Guru mengatur dan murid diatur
6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, sedangkan murid mengikuti
7. Guru bertindak dan murid hanya membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya
8. Guru memilih apa yang diajarkan dan murid menyesuaikan diri
9. Guru mengacaukan wewenang wawasan yang dimilikinya dengan wewenang profesionalisme dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid
Oleh karena guru menjadi pusat segalanya, hal yang lumrah jika murid yang mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai “manekin” manusia ideal yang harus ditiru dan diteladani dalam segala hal. Implikasinya, kelak murid-murid tersebut berubah menjadi duplikasi guru mereka dahulu. Pada saat itu, akan lahir generasi baru yang penindas. Jadi, penindasan bisa jadi diawali dari dunia pendidikan. Inilah labirin pendidikan yang tak akan putus tanpa adanya pencetus inovasi.
Posisi bangsa Indonesia berada dalam dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara non resmi, santai dan bebas. Yang dipentingkan dalam pergaulan dan perhubungan antarwarga adalah makna yang disampaikan. Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks bahasa nasionala dapat dengan bebas menggunakan ujarannya baik lisan maupun tulis.
Merujuk pada salah satu prinsip pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, yakni belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, sejatinya pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kualitas komunikasi lisan dalam berbahasa Indonesia. Dan tidak dapat dipungkiri dalam rangka mempercepat proses peningkatan kualitas dibutuhkan strategi pembelajaran yang efektif. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran termasuk di dalamnya adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses.
Pada kesempatan ini kami menyajikan salah satu pembelajaran bahasa Indonesia lisan dengan cara “bermain peran”. Strategi ini diharapakan dapat efek ganda dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yakni memotivasi sekaligus melatih keterampilan untuk berkomunikasi secara lisan. Guru yang kreatif senantiasa mencari inovasi baru dalam pemecahan masalah pembelajaran. Tidak terpaku pada cara-cara konvensional yang monoton. Bermain peran merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh.
Tujuan
Strategi pembelajaran Bahasa Indonesia lisan dengan cara bermain peran diharapkan dapat lebih mengefektifkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga kualitas pembelajaran semakin meningkat.
A. Pengertian
Sebagai makhluk sosial dan individual, manusia membutuhkan interaksi dimana mereka dapat memberikan pengaruh dan dipengaruhi. Dilihat secara spesifik, sebagai individu manusia memiliki berbagai keunikan rasa. Senang, sedih, marah dan beragam aneka rasa yang kemudian dimunculkan sebagi potensi masing-masing pribadi.
Peran sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan atau tindakan. Ini merupakan suatu rangkaian keunikan dari individu yang satu ke individu lainnya. Peran yang dimainkan oleh seseorang memiliki pengaruh kepada orang lain dan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.
Pada dasrnya strategi ini memiliki potensi keberhasilan yang tinggi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa usia anak SD adalah tahapan dimana mereka sangat senang bermain peran (alias main pura-puraan/jadi-jadian).
Ada dua jenis bermain peran, yaitu mikro dan makro. Bermain peran mikro, anak-anak belajar menjadi sutradara, memainkan boneka, dan mainan berukuran kecil seperti rumah-rumahan, kursi sofa mini, tempat tidur mini (seperti bermain boneka barbie). Biasanya mereka akan menciptakan percakapan sendiri. Dalam bermain peran makro, anak berperan menjadi seseorang yang mereka inginkan. Bisa mama, papa, tante, polisi, sopir, pilot, dsb.
Dalam strategi pembelajaran dengan bermain peran ini kita sebagai pendidik dapat melakukan dua hal penting dalam kegiatan pembelajaran. Yakni adanya transfer of knowledges dan transfer of values yakni seni bagaimana kita memberi nilai disamping kita mentransfer pengetahuan kita.
Saat bermain peran ini bisa menjadi ajang belajar bagi mereka, baik belajar membaca, berhitung, mempelajari proses/alur, mengenal tata tertib atau tata cara di suatu tempat. Tentu saja kita hanya cukup memberikan informasi sebelum mereka mulai bermain, dan atau lebih baik kalau kita terlibat dalam permainan tersebut agar kita bisa menggali imajinasi dan mengenalkan informasi yang ingin kita kenalkan.
B. Model Pembelajaran dalam Bermain Peran

Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:

a. Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’.
Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogi yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respon emosional sambil belajar.
b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran.

c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
Strategi mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan lama. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi
.
d. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Kemudian disinilah kita dapat melihat bahwa akan adanya interaksi antara siswa yang satu dan yang lain.
Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni
(1) kualitas pemeranan,
(2) analisis dalam diskusi,
(3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan
Ada tujuh tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran:
(1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik,
(2) memilih partisipan/peran,
(3) menyusun tahap-tahap peran,
(4) menyiapkan pengamat,
(5) pemeranan,
(6) diskusi dan evaluasi,
(7) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan.
Jika para pendidik benar-benar memaknai sebuah pembelajaran adalah sebagai suatu wahana membentuk dan menanamkan nilai pada siswa maka dengan sendirinya pembelajaran akan berjalan menyenangkan dan memberi makna mendalam pada siswa. Kemudian peningkatan kualitas manusia akan berjalan dengan sendirinya. Membentuk pribadi-pribadi intelek dengan tetap berpegang pada “hati”.
Penerapan Role Playing Dalam Pembelajaran
Misal :
Kita ingin mengenalkan tentang Pasar (jenis perdagangan, cara jual beli, berbagai jenis pedagang,profesi halal). Layout tempat bermain peran ini bisa diatur sedemikian rupa menjadi beberapa tempat yang berfungsi sebagai rumah, pasar, toko, jangan lupa selalu sediakan tempat untuk masjid. Sediakan peralatan yang mendukung, tentu saja boleh buatan sendiri misal bakul,dan peralatan dagang lainnya, kotak dijadikan sebagai timbangan. Harus ada uang mainan (tanamkan konsep bahwa agar barangnya halal untuk dimakan harus dibeli menggunakan uang). Misalnya barang dagangan adalah ikan. Kenalkan proses distribusi mulai dari ikan ditangkap nelayan, dijual ke pasar ikan, dibeli oleh pembeli dan dimasak oleh ibu (secara tidak langsung mengenalkan profesi halal). Saat makan, informasikan kandungan gizi apa saja yang ada dalam ikan. Untuk menuansakan agama, selalu diupayakan ada adzan di sela-sela mereka bermain, tidak lain membiasakan anak untuk berhenti bermain, melaksanakan sholat berjamaah, sesudah itu boleh meneruskan bermain. Pasang tulisan informasi jenis dagangan (misal di kotak tempat barang di pasar), nama tempat (masjid, pasar, rumah keluarga Amir, Inu, Santi dll). Kalo unsur berhitung, bisa saat menghitung ikan yang ditangkap atau yang dibeli….tentu saja semua informasi dikenalkan melalui percakapan antar pemain.Demikian aplikasi bermain peran dalam pembelajaran.
Kesimpulan
Melalui strategi pembelajaran bermain peran, siswa dapat meningkatkan kualitas komunikasi lisan sehingga interaksi siswa tetap terjalin. Selain itu juga bermain peran menjadi ajang bagi para siswa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini mengerucut membentuk sebuah pengalaman baru bagi siswa yang menunjang bertambahnya wawasan siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Mudjiono dan Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta kerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC
www.google.com. 5 oktober 2009. Nurasia. Thesis Penerapan model pembelajaran Role Playing untuk Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Drama.
www.dahli-ahmad.blogspot.com/2009/03. Model Bermain Peran dalam Pembelajaran.

Batang cuissienaire


Satu set Batang Cuissenaire terdiri dari 10 jenis batang yang berbeda warna dan ukuran panjangnya, yaitu :

1. Warna putih ( satuan ), ukuran 1x 1 x 1 cm
2. Warna merah (2), ukuran 1 x 1 x 2 cm
3. Warna hijau muda (3), ukuran 1 x 1 x 3 cm
4. Warna ungu (4), ukuran 1 x 1 x 4 cm
5. Warna kuning (5), ukuran 1 x 1 x 5 cm
6. Warna hijau tua (6), ukuran 1 x 1 x 6 cm
7. Warna hitam (7), ukuran 1 x 1 x 7 cm
8. Warna coklat (8), ukuran 1 x 1 x 8 cm
9. Warna biru (9), ukuran 1 x 1 x 9 cm
10. Warna orange (10), ukuran 1 x 1 x 10 cm

Setiap jenis terdiri dari beberapa batang, sehingga pada saat yang sama kita dapat menggunakan beberapa jenis batang yang sama.
Batang cuissenaire dapat digunakan dalam pembelajaran bilangan cacah untuk menanamkan konsep urutan/perbandingan, operasi penjumlahan, perkalian dan pembagian serta pengurangan. Berikut ini sajian kelima konsep tersebut dengan peraga batang cuissenaire :

a. Urutan/Perbandingan
Jika kita akan membandingkan dua bilangan caach dengan batang cuissenaire cukup dengan cara mengambil dua buah batang yang akan dibandingkan nilainya.kemudian dua batang diimpitkan dan dibandingkan panjangnya, batang yang lebih panjang menunjukkan nilai yang lebih besar.

b. Penjumlahan
Misalkan kita akan menjumlahkan 2 + 3
 Ambil satu batang berwarna merah (2)
 Ambil satu batang berwarna hijau muda (3)

 Kedua batang ini diimpitkan
 Carilah batang lain yang dapat menutupi kedua batang tersebut dengan pas.
Ternyata batang yang dapat menutupi kdua batang ini adalah batang berwarna kuning (5). Hal ini artinya 2 + 3 = 5

c. Pengurangan
Misalnya kita akan menghitung 6 – 4
 Ambil sebuah batang yang berwarna hijau tua (6)
 Letakkan sebuah batang ungu (4) pada bagian atasnya dengan ujung kiri rata

 Kita harus mencari batang lain yang apabila diletakkan diatas batang hijau tua yang belum tertutup menjadi tertutup. Batang ternyata dapat menutupinya adalah batang berwarna merah (2).
 Jadi 6 -4 = 2

d. Perkalian
Misalkan kita akan mengalikan 2 x 3
 Ambil dua buah batang berwarna hijau muda (3). Letakkan bersambungan memanjang.
 Kita akan mencari batang lain yang seukuran dengan dua batang tadi. Ternyata yang tepat menutupi adalah batang berwarna hijau tua (6). (lihat gbr 2)
 Dengan demikian 2 x 3 = 6

e. Pembagian
Misalnya akan dihitung 4 : 2
 Kita akan mengambil batang berwarna ungu (4)
 Ambil beberapa batang berwarna merah (2)
 Letakkan batang batang berwarna merah (2) itu sehingga letaknya pas dengan batang berwarna ungu (4)

 Ternyata banyaknya batang merah (2) adalah dua buah,jadi 4 : 2 = 2
Kelebihan Batang cuissenaire :
 Siswa akan merasa senang dan dapat memberikan motivasi sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Hal ini akan memaksimalkan hasil pembelajaran.

Kelemahan Batang cuissenaire :
 Terbatasnya waktu pembelajaran (di sekolah).

Solusi :
 Perencanaan pembelajaran oleh guru harus baik dan matang. Salah satunya dengan cara menyiapkan contoh soal.

The Truth


Kebenaran yang dibutuhkan oleh seorang kekasih adalah kebenaran jawaban "iya". Kebenaran bahwa ia dicintai oleh orang yang ia sayangi. Dicintai oleh orang yang ia cintai. Kebenaran bahwa orang itu mengatakan "iya aku mencintaimu" dari dalam hati.

Jika ditanya apa yang paling ingin didengar oleh orang yang sedang mencintai seseorang. Maka tentu saja ia ingin mendengar bahwa orang yang ia cinta juga mencintainya, tapi dalam arti yang sebenarnya. Saya, kami, juga mereka, orang-orang yang mencintai dengan tulus hanya ingin dicintai. Ingin mengetahui bahwa diri ini memang ada dalam hati.. Bukan sekedar di lisan, tapi sebagian orang hanya mengira, orang-orang ini hanya butuh kata "I love you"

Karena prasangka inilah banyak yang tega membohongi mereka. Orang-orang ini tak hanya butuh kata cinta tapi butuh kebenaran. Butuh cinta yang sebenarnya. Maukah sekarang kita belajar untuk menghormati hati orang-orang yang mencintai. Jika tidak mencintainya maka katakan yang sebenarnya. Begitupun jika mencintainya, katakan cinta...

Kebenaran... menurutku itulah cinta.

Monday, April 12, 2010

Sahabat Strawberry


Saya memanggilnya Tiraberry. Penyuka dan pecinta buah strawberry. Mencintai bentuk dan rasanya. Saya yakin dia akan menjadi tipikal mama yang baik bagi anak-anaknya. Karena hobinya mencuci dan menyetrika. Karena itulah banyak dari anggota keluarganya sering menggunakan jasanya yang ia lakukan dengan sukarela. Wong hoby kok! Dia Perasa. Tipe wanita berhati halus. Mommy-mommy banget kan? Mungkin karena darah jawanya walaupun lebih banyak darah Lombok. Hehe…

Dia sangat suka di dapur. Ruang kerja yang menjadi daerah kekuasaannya. Mungkin bisa ditulis di depan pintu dapur “don’t disturb me!” awas Tirberry galak” hehhe. Piiisss. Menu yang biasa dia berikan kepada kami saat kerja kelompok dalam tugas-tugas kuliah adalah kangkung, jagung, lalapan dan tempe. 

Karena dia tidak bisa hidup tanpa tempe. Benar-benar wanita tempe. Ada satu hal yang membuat kami yang mengenalnya akan sering ingat padanya. Apalagi selain strawberry. Jika saya sedang berjalan-jalan dan tidak sengaja melihat ada wujud strawberry maka refleks melintas wajah ‘tengkongnya”. Satu lagi! Dia pecinta sinetron. Baru-baru ini favoritnya adalah ‘Cinta Fitri’ dan “Mawar Melati”. Dia sangat gandrung pada keduanya. Membuat saya menggeleng weleh-weleh. Berbeda sekali dengan saya yang menyukai film kartun, film india ,barat, dan drama korea..

Ada hal yang saya sayangkan dari dirinya. Dia tidak suka membaca. Capek katanya. Ngantuk, alasan yang juga pernah ia lontarkan. Bosan paling sering menjadi jampi-jampi penangkalnya ketika saya menawarkan sebuah buku. Pada dasarnya dia memang lebih suka mendengar. Saya akui bahwa dia adalah pendengar yang baik (tapi setelah saya hehehe.. piiiiissss..). itulah yang menyebabkan saya lebih sering menceritakannya “sesuatu’ yang saya dapatkan dari buku dibandingkan langsung menawarkannya membaca buku. Saya akui hal yang saya dapatkan dari interaksi dengannya adalah saya semakin cerewet dan lebih menguasai materi yang pernah saya dapatkan di buku. Baguslah. O ya dialah yang mengajari saya bahasa Jerman. Saya tawarkan untuk mengajarinya bahasa India tapi ia tolak. Hehehe. Dia juga mengajari saya main gitar. Walaupun masih fals tapi dia tetap memuji saya. Tipikal guru pengayom hihihi…
Hal lain yang ingin saya tuliskan adalah….. dia mencintai dengan tulus…
Gut danke !

(*mungkin to be continue*)
Mataram, 07 April 2010

Sunday, April 4, 2010

Senja

Aku mencintai senja. tapi lupa sejak kapan. hanya cinta. terkadang aku bertanya kenapa aku begitu suka. dan malah jadi ragu apa benar aku suka. yang ku tahu aku suka suasana gelap. tidak terlalu suka ruang yang terlalu terang. bukan karena aku punya sihir hitam. tapi memang karena aku suka warna hitam. jadi pusing begini nulisnya. ini hanya mempraktekkan apa yang dikatakan teman " tulislah apa yang kau pikirkan jangan memikirkan apa yang akan kau tulis". jadi rancu begini. walah!
mungkin malam ini dia harus berdoa agar tidak bertemu dengan saya di dalam mimpi. karena mungkin besok pagi dia tidak akan bangun.
(^.^)

Mengingat seorang Sahabat

Saya ingin bercerita tentang seorang teman yang keras kepala dan sangat pemaksa. dia memang seperti itu. pencemburu juga. tapi dibalik semua "kekejamannya" dia adalah orang paling perasa sedunia. dia tidak akan pernah mau mengatakan rasa sayangnya pada siapapun karena dia pembenci kegombalan. (ngakunya si begitu). dia jatuh cinta pada novel "Diorama Sepasang Albanna"-nya Ari Nur. dan dia suka pada sosok Ryan di novel itu. Sejak itu mungkin ia senang melihat orang berkaca mata. (ada-ada saja)
dia tidak pernah mau menaiki cidomo. 
"Aku kasihan pada kudanya, lihat liurnya merupakan tangisan lelahnya", katanya
Atau di situasi lain dia akan memandang iba pada pemulung, atau pedagang gerabah berjalan. Dia paling tidak suka jika namanya dilupakan atau ketika saya salah memanggil namanya dengan menyebut nama orang lain. Bibirnya akan langsung monyong pertanda cemberut. Selain itu dia adalah pribadi yang selalu resah. entah apa, tapi yang jelas dia adalah orang paling gelisah yang pernah saya tahu. Saya sempat bersitegang dengannya ketika dia mengatakan bahwa kebaikan itu terkadang memang harus dipaksakan.

Saya jelas tidak setuju karena pada dasarnya saya adalah orang yang tidak suka "pemaksaan". Entah itu untuk kebaikan atau pun tidak. Kami sering berbeda pendapat dalam beberapa hal namun kami juga punya kesamaan dalam bidang literasi. Mhm.. tidak akan lengkap bila menulis tentangnya tanpa menceritaan kecintaannya pada ilalang. Rumput biasa yang suka melenggak-lenggok. Dia pernah nekat pergi mengajak saya mencabut ilalang di reruntuhan bangunan tua. Dia bawa pulang dan menanamnya di pot. Disirami dan mengharapkannya tumbuh. Hasilnya? Mati.

Saya kira ia akan menyerah untuk menanam ilalang lagi. tapi dia membuktikan kesungguhannya dengan menanam kembali beberapa rumpun ilalang dan sekarang tengah tumbuh subur di depan kosnya. Entah jampi-jampi apa yang dia baca. Untuk sekarang sampai disini dulu coretan tentang dia. Lain kali mungkin akan saya sambung. itupun kalau saya mau. hehehe

Friday, April 2, 2010

Nostalgia Puisi


Saya sedang mencoba mengingat-ingat sebuah puisi lama yang pernah saya tulis. saya terus mencoba mengingat judulnya. tapi hasilnya tetap saja. lupa!
puisi itu saya berikan pada seseorang. sebagai kenang-kenangan, kata saya ketika itu. selain saya lupa judulnya. saya juga tidak tahu nasibnya. mungkin sudah hilang. sudah robek. atau teronggok di tempat pembuatan sampah. untung-untungannya masih tersimpan rapi.  
ada satu hal yang ingin saya sampaikan  bahwa saya masih berharap puisi itu utuh. namun saya tidak memiliki jaminan pasti. mengingat ada beberapa alasan kenapa ia seharusnya telah musnah. entah itu terbakar api atau terkubur dalam tanah. 

Penilaian Project


1. Pengertian

Projek adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode / waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Karena dalam pelaksanaannya projek bersumber pada data primer / skunder, evaluasi hasil, dan kerjasama dengan pihak lain, projek merupakan suatu sarana yang penting untuk menilai kemampuan umum dalam semua bidang. Projek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan siswa pada pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan siswa untuk mengomunikasikan informasi.

Kuliah dalam Diam

Ketika sedang mengikuti kuliah salah satu dosen saya. tiba-tiba ada pesan yang dituliskan seorang sahabat kepada saya.

Teman  : "Aku tidak tahu bagaimana cara menghargai metode mengajar dosen ini"
Saya   : "Setidaknya ada pelajaran yang kita ambil bahwa metode seperti yang beliau terapkan terbukti tidak berhasil"

Terkadang saya sering berpikir bahwa akan jauh lebih berguna jika sekiranya saya tidak masuk kuliah. Lebih berguna rasanya jika saya diam di kos sambil membaca buku yang telah menumpuk antri untuk dibuka. Saya telah berusaha kuat untuk mengambil sari-sari ilmu yang dosen itu berikan, tapi saya tetap tidak merasakan maupun mendapatkan apapun tatkala beliau menjelaskan materi di depan kelas. Baiklah... rasanya terlalu ekstrim bila mengatakan tidak mendapatkan apapun. Saya ganti redaksinya menjadi "hanya mendapat sedikit" tambahan informasi.

saya sudah berusaha memahami apa yang beliau jelaskan, namun dalam bayangan saya beliau seperti menggunakan bahasa yang tidak berasal dari dunia ini melainkan dari tempat lain. begitu asing dan sulit dimengerti. Walaupun pada dasarnya beliau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mungkin saya yang terlalu lemah untuk menerima ilmu dari beliau, tapi bagaimana jika semua teman kelas justru merasakan hal yang sama?