Monday, October 28, 2013

Do I Need to Slap Myself?

Ouch! Apa judul postingan ini terlalu sadis?
Mungkin kalian akan menjawab tidak jika tahu apa hal paling produktif yang gue lakuin beberapa hari ini. The most productive thing I did? Sleep! Gue jadi ingat status seorang teman di Facebook

Rasa malas itu datang ketika kita terlalu cepat memutuskan untuk beristirahat 
sebelum datang rasa lelah. 

Mungkin memang iya.. Rasanya memang gue berubah jadi pemalas, gue cuma ngeliatin detik-detik jam dinding di rumah gue berlari without really accomplishing anything. 

But today, I decided to get out of bed.. Gue secara spontan memutuskan untuk ikut dalam kuis kecil di twitter, proyek sederhana #OllieBooks. Lumayan buat lemesin jari-jari kaku, dan ngerangsang semangat yang loadingnya putus nyambung... Dengan bahasa Inggris seadanya, gue nekat kirim foto ini buat ikut kuis di twitter. Haha.. spontan gini rasanya oke juga :p

Foto bareng Bukunya Mba Ollie untuk ikut tantangan #OllieBooks
Pada akhirnya, rasa malas hanya bisa memudar jika kita memang melawan, dan untuk mulai melawan mulailah dengan basmalah dan loncatlah dari tempat tidur! In my case, gue langsung ikutan tantangan kecil di twitter, itu tanpa pikir panjang... mikir panjangnya baru pas nentuin konsep foto bukunya *hihi.. Rasa malas itu bener-bener racun, jadi inget sebuah quote pas blogwalking, katanya:

"Kalau setan gak bisa ngerayu kita buat ngelakuin maksiat, dia bakalan buat kita lalai terhadap waktu"
*iiiih... 
Note:
Postingan ini juga tanpa kotak komentar ya... :p

Saturday, October 26, 2013

The Pain of Bearing Untold Story

There is no greater agony than bearing an untold story inside you
--Maya Angelou--

Saya rasa seberapa biasa pun seseorang dengan kesendirian, ia akan tetap merasa sepi. Sepenyendiri-penyendirinya seseorang, seintrovert-introvertnya mereka, mereka tetap butuh seorang pendengar.

Bukan! bukan hanya seorang pendengar, tapi seseorang yang membuat nyaman hati mereka.. seseorang yang mereka percaya, seseorang yang dengannya mereka berani memperlihatkan luka, yang di depannya mereka berani menunjukkan tangis... seseorang yang dengan sabar menjadi pendengar tentang cerita mereka yang patah-patah dan bercampur suara serak, yang itu pun masih tertahan di tenggorokan, yang membuat cerita mereka mungkin akhirnya hanya mampu ruah dalam tangis yang panjang... dan bahkan dalam tangis yang diam.

Orang-orang seperti ini benar-benar membutuhkan seorang pendengar, namun adakah yang mengerti bahwa sebuah tangis yang diam juga adalah sebuah cerita? adakah kau, kalian dan saya mau menjadi pendengar dari suara-suara sepi? Ya.. menjadi pendengar dari cerita yang tak bisa diceritakan...

Note:
Pasti sakit sekali bukan? :(

I am Sanguin-Melancholy

7.02 pm

Hujan.
sisi melancholy saya sedang menguat. Tapi memang 1 bulan terakhir ini saya menyadari bahwa sejak awal saya benar-benar seorang melankolis. Awalnya saya berpikir dan menasbihkan diri sebagai sanguinis. Tapi ternyata saya baru tahu adanya kombinasi, dan setelah membaca beragam artikel. Saya paham sepaham-pahamnya bahwa kepribadian dasar saya adalah melankolis. 

Lalu bagaimana mungkin seorang Melo juga memiliki sisi Sanguin? Bagaimana dua kepribadian yang bertolak belakang malah tergabung dalam diri saya? Bukankah seorang melankolis adalah orang yang introvert? Sedangkan sanguin adalah lambang dari sifat yang ekstrovert? Orang-orang melo bukankah orang yang begitu detail dan seorang thinker sedangkan para sanguinis adalah mereka yang bergerak secara spontan dan cenderung impulsif? 

Akhirnya saya paham, mengapa terkadang saya begitu ansosial, namun terkadang begitu menyukai 'panggung'...
Akhirnya saya paham, mengapa saya begitu tabah seperti Hujan Bulan Juninya SDD dan menikmati 'luka'... 
Akhirnya saya paham mengapa...

Note:
Sorry postingan ini tanpa kotak Komentar, bukan apa-apa.. hanya ingin saja ('.')

Say Bye to Jin!

Saat menulis ini, kakak saya sedang menonton film india.. dan jadilah saya ngeblog dengan iringan lagu Dil To Pagel Hai nya Shahrukh Khan dan Kharisma Kapoor :) 

Saya tidak punya topik khusus hari ini, hanya ingin menulis. Mungkin buang sial atau buang rasa malas. Ada banyak list lomba menulis di meja saya. Menunggu antrian untuk dikerjakan, tapi entahlah.. akhir-akhir ini sepertinya Jin (Rasa Malas) saya sedang datang berkunjung. Selain list lomba menulis, di samping tempat tidur juga banyak buku yang bertumpuk, daftar panjang riset kecil-kecilan yang rencananya ingin saya lakukan.

Saya benar-benar berharap postingan ini menjadi langkah awal saya untuk bisa bergerak dan menanggalkan ikatan Jin (baca : rasa malas) yang saya anggap sudah cukup parah.

Adakalanya memang semangat turun naik, oke! turunnya sudah cukup! Sekarang waktunya melompat dan terbang!! Ciiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaat ciaaaaaaat. *mulanya mau ngadopsi jurus Jeki and Jetli tp karena saya cinta Indonesia, saya pake jurus Kian Santang ama Gadjah Mada aja! :p

BlackRoom, 11.55 a.m

Thursday, October 3, 2013

Marlita is a Mom Now

“Sekarang aku punya bayi lho…”

Uhuk, itu bukan dialog saya. Tapi kalimat pertama yang diucapkan Marlita saat saya dan Ivy menjenguknya sehabis operasi Caesar. Walaupun sudah melihat Yazid (the baby) saya masih belum percaya Marlita sudah benar-benar jadi ibu.

Rasanya baru kemarin kami berumur 17 tahun, baru kemarin kami mengobrol centil-centilan sambil ngemil jajanan bibi Kantin, tapi waktu memang sudah berjalan jauh. Saya yakin kita sadar bahwa waktu tengah berjalan hanya saja terkadang kita masih terheran dengan perubahan yang terjadi, perubahan keadaan, perubahan sifat, perubahan sikap, dan ehem.. perubahan status *hihihi
Assalamualaikum Yazid :) Besar nya moga jadi cowok keren dunia-akhirat
Ngomong-ngomong tentang perubahan status, tentu saja saat menjenguk Marlita saya tak terhindar dengan pertanyaan ini,

“Ayo kapan Win?”

Dan tentunya saya balik dengan dialog nantang,

“Cariin aja”

Ehh.. saya malah ditantang balik, Marlita bilang Abinya Yazid punya banyak stok teman yang lagi menerawang calon istri *hehehe. Dan saya hanya tertawa…. Sembari diam-diam mencari rasa siap untuk waktu itu... yang nantinya Allah tentukan sebagai titik perubahan :)

Begitula…wahai kau yang di sana

Rasa siap juga butuh ikhtiar

dan dalam sujud-sujud kita,

ia yang mungkin kini kuncup

tengah bersiap mekar…