Tuesday, September 27, 2011

Memerangkap Waktu

Adakalanya kita tiba-tiba merindukan masa kecil. Beberapa orang yang “rajin” memotret atau dipotret dapat melihat beberapa jejak yang  telah  ia buat dalam jajaran gambar di album photo mereka. Tapi bagi yang senasib dengan saya, mungkin hanya kan menemukan kurang dari beberapa gambar saja. Apesnya lagi tidak ada sama sekali.
Saya jadi mengerti kenapa dulu ibu saya begitu cerewet meminta saya untuk sekedar bergaya di depan kamera untuk moment-moment tertentu. Tapi saya lebih banyak menghilang ketika ajang jepret-jepret itu tiba.
Where am I?
Akhirnya, saya  mendapatkan gambar masa kecil saya di photo 3x4 ijazah TK. Nasib….

Waktu TK
Mungkin rasa miris inilah yang menyebabkan saya mulai menyukai fotografi, sekaligus mulai senang di potret, eksis sel-ca pula, saya tidak mau ketika tua nanti harus menemukan satu-satunya photo masa muda saya adalah di Ijazah pendidikan terakhir…
Walaupun hanya dengan berbekal kamera ponsel, saya akhirnya membuat perangkap untuk moment yang ingin saya simpan…
Ya.. memerangkap waktu, memerangkap kemudaan.. (^.^)

My Room, 27 September 2011

Monday, September 19, 2011

Rumi… Kupinjam Sedikit Kalimat Cinta Darimu…

I told you the truth, the only proof I have are my words. 
But words the only proof I ever had that you were real…and Still I believe..
(Soren _ Film Legend of The Guardian The Owls of Ga' Hoole) 

Sumber Gambar di sini
Bagaimana jika kita terjebak pada suatu kondisi dimana kebenaran yang kita tahu hanya bisa dibuktikan dengan kata?
Bahkan tak jarang bukti kebenaran utuh pun masih bisa tertolak. Karena ada saja orang-orang yang bermain dengan bukti hingga kebenaran menjadi absurd.

Banyak hal menunjukkan fakta namun belum tentu semua itu benar.

Contoh, kita menemukan fakta bahwa si Y dan X pacaran, akan tetapi belum tentu benar bahwa mereka pacaran karena saling mencintai. Lalu fakta bahwa si A dan B menikah dan punya anak, akan tetapi belum tentu benar bahwa anak itu anak si A. Ada contoh lain juga bahwa sebuah penyelidikan pembunuhan menemukan fakta bahwa si Z menggenggam pisau yang merupakan bukti pembunuhan, namun belum tentu benar bahwa si Z yang membunuhnya. Ia mungkin hanya berada ditempat dan waktu yang salah. Bagaimanakah ia akan mengatakan bahwa ia tidak membunuh sedangkan buktinya adalah sebuah kebenaran yang hanya dia yang tahu.

Lalu bagaimana dengan cinta yang bahkan kita sendiri tak dapat mengukurnya? Juga tak mampu mengucapnya? Akankah ia menjadi sebuah kebenaran yang terancam tak memiliki bukti apapun walaupun hanya berupa sebuah kalimat? Ya… terkadang kebenaran bahwa kita mencintai seseorang hanya kita yang tahu. Karena buktinya meringkuk aman dalam hati. Jikapun terucap maka buktinya bisa saja hanya kata-kata. Karena ada beberapa orang yang tidak tahu harus melakukan apa ketika cintanya meminta pembuktian. Katanya perhatian kurang, pertemuan jarang, dan sebagainya yang entah mengapa selalu kurang (^.^)

Namun apakah lantas ia tak berhak dipercaya dan diungkap  karena buktinya hanya sebuah ucapan?

Bagaimana kita mendefinisikan cinta, sedang ia terkadang melampaui logika? Meminjam rangkaian kata Jalaludin Rumi bahwa,
hanya cinta yang dapat menerangkan apa itu cinta.
Seakurat-akuratnya definisi hanya cinta sendiri yang dapat mengungkapkannya. Karena itu saya berharap ketika menyatakan cinta padaNYa (nya), Dia (dia) akn percaya dan mengerti sebab Dia (dia) pun mencintai saya. Biarkan cinta menjadi bukti dalam hati yang bisa kita ungkap lewat kata dan kita mengerti walau terkadang diam-diam..
Maukah Kau (kau) percaya padaku ketika dengan lembut dan sepenuh hati kungkap kebenaran cinta padamu dengan bukti kata?

“Aku mencintaimu…”

Black Room, September 2011

dedicated:
Semua yang mencintai
dan memperjuangkannya..

Wednesday, September 14, 2011

Kreatifitas Brutal

Membaca berita-berita kriminal membuat saya merinding. Metode dan trik yang kreatif namun salah tempat menurut saya. Para pelaku begitu pintar dalam merencanakan tindakan kriminal mereka. Akan sangat menguntungkan jika mereka menggunakan kreatifitas mereka untuk mencari hidup dan membuat hidup banyak orang menjadi lebih baik. 
Kreatifitas brutal bahkan cenderung saya anggap bejat. Jahat. Bukankah tidak ada yang ingin terlahir menjadi penjahat? Apakah selalu keadaan yang membuat seseorang berubah bejat? Jika pilihan dalam hidup mereka hanya mengarah pada kehancuran, mengapa mereka justru memilih menghancurkan hidup orang lain? 
Membunuh? 

Entah ada berapa hati yang terluka, bahkan nyawa yang tak akan kembali. Kehilangan bagi keluarga dan teman-teman korban sudah pasti menyakitkan tanpa ditambah alasan mereka kehilangan karena sebuah pembunuhan. Kemarahan yang muncul adalah simbol luka dan kesakitan. Kebencian adalah puncak rasa sakit, sedangkan balas dendam memungkinkan untuk mengabadikan luka. 
Lalu apa itu keadilan?

Penjara?


Hotel prodeo yang akankah menjinakkan kebrutalan kreatifitas mereka atau memperluas jaringan?

Semoga Allah memberikan penjagaan terhadap kita dari kekejaman orang lain dan dari berbuat kejam.. 
Amin Ya rabb..

Black Room, Night September 2011

Tuesday, September 13, 2011

Park Hyo Shin (Snow Flower)

Lagu Snow Flower ini adalah OST nya drama Korea "Sorry I Love You".. dramanya uda lama sih... tapi kenangan ceritanya yang nyentuh dipaduin lirik lagu ini pas banget.. Pemeran utamanya So Ji sub si muka garang tapi cakep.. uhuk... 
"Sorry I love you" ... di ending baru saya mengerti arti judul dramanya... meminta maaf karena mencintai dan membuat seseorang jatuh cinta sedangkan ia tahu ia akan segera mati... cinta.. sebuah nyanyian dalam hati..
Park Hyo Shin sy anggap cocok membawakan lagu ini... Tapi versi acousticnya juga keren... 
Mhm.. Really Love this song...

Black Room, September 2011

Sunday, September 11, 2011

Ngutak Atik Dapur (Biasa yang Berasa)

Mhm... Puasa kemarin sempat diajari resep tahu aci oleh temen.  Setelah mudik saya coba utak-atik. Cukup mudah, hanya saja saya harus belajar untuk meng-upgrade menu ini.  Ada beberapa menu lain juga yang saya masak. Ada sambal udang wortel, dan bakwan jagung.
Hahaha.. Berasa jadi Mom...
Sempet jepret-jepret dengan keahlian fotografer amatiran... Jadilah seperti ini.
Ini Tahu Achi nya.. :D
 Kalo yang ini Bakwan Jagung (^.^)

Friday, September 9, 2011

Mom, Dad vs Child


Pada umumnya orang tua memiliki keinginan agar anak-anak mereka mendapat yang terbaik. Sedangkan anak-anak mereka memiliki keinginan yang mereka sebut mimpi. Biasanya merupakan hal yang mereka sukai berdasarkan kemampuan dan potensi mereka.
Masalahnya adalah pendapat mereka dan orang tua bertentangan. Komunikasi akhirnya berubah menjadi perdebatan yang tak sampai pada titik temu. Kalaupun ada sebuah keputusan maka itu hanya sebuah keputusan sepihak berdasarkan pandangan sepihak yang akhirnya berujung pada kepuasan sepihak. Jarang pembicaraan Mom, Dad vs Child berbuah kesepakatan bersama.
Banyak anak-anak yang akhirnya menjadi atau bekerja sesuai dengan keinginan orang tua mereka. Namun mengorbankan mimpi dan mengubur hal yang mereka inginkan sendiri. Ketika masih anak-anak banyak yang bertanya "cita-citanya apa dek?"
Lalu mulut kecil itu menjawab dokter, atau pramugari, atau guru, atau pengusaha, atau presiden, atau penulis, atau demonstran dll.... tapi terkadang, sekali lagi... mereka mengucap cita-cita namun di sudut lain ada orang yang sudah mendesain hidup mereka.
Perintah Allah agar anak-anak taat pada orang tua, mungkin anak paham betul. Dan mungkin itulah benteng terkuat sehingga mereka tak harus berdebat panjang dan memilh diam. Pada dasarnya anak-anak tahu bahwa yang diinginkan orang tua adalah juga bagi kepentingan dan kebaikan mereka. Akan tetapi Mom and Dad juga sebaiknya paham bahwa anak-anak mereka juga punya keinginan, mimpi, pandangan, dan prinsip hidup sendiri. Sebuah film dari India mengemas fenomena ini dalam judul yang singkat. 3 idiots.
How to say clearly.... Mom, Dad... I am not kid anymore...

Black Room, September 2011


Thursday, September 8, 2011

Sekilas tentang Artis Korea Yang Bunuh Diri

Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap fenomena Korean Wave (Hallyu) yang terjadi di Indonesia. tapi karena disuguhi aneka drama dan lagu oleh teman akhirnya saya mulai tertarik. Saya jadi ingat sebuah drama keluarga yang pernah saya tonton. cerita emak-emak kata teman sy sewaktu dengan berbinar-binar sy ceritakan tentang drama ini. Saya begitu menyukai drama korea Rossy Life...

Rossy Life bercerita tentang kehidupan seorang ibu rumah tangga yang diperankan Choi Jin Sil. Memang pemerannya sudah tua-tua, tapi jalan ceritanya fokus dan menyiratkan banyak pesan. Sampai-sampai saya menangis bombay di ending cerita. Kemudian baru-baru ini sy kembali menonton drama dengan pemeran yang juga sudah tua-tua. Saya temukan kembali wajah Choi.





Judulnya The Last Scandal. Usut-usut ternyata ketika nanya mbah Google, Choi Jin Sil sudah meninggal bunuh diri. Walah! Bukan hanya Choi artis yang bunuh diri di korea. Banyak pendahulu bahkan pengikutnya yang juga memilih jalan serupa. Seperti Park Yong Ha... yang saya puji-puji aktingnya di sebuah film, ternyata sehari setelah menonton filmnya baru saya tahu dia sudah bunuh diri. selain itu ada drama Poenix, yang ternyata artisnya juga bunuh diri. Rata-rata penyebabnya karena depresi. Choi sendiri diberitakan mengalami tekanan dan depresi oleh pemberitaan media, belum lagi masalah perceraiannya. Padahal aktingnya bagus. Namun sekarang potensi itu sudah terkubur dan kehidupan Choi akhirnya hanya terangkum dalam batu semen yang dingin dan kaku. Lahir tangga sekian, wafat tanggal sekian. End.... 

Ini foto Choi Jin Sil dan Park Yong Ha.  Mhm...walaupun sudah terlambat saya ingin mengatakan bahwa mereka memiliki kualitas akting yang baik.