Sunday, April 18, 2010

Galeri Cinta di Dunia Helvy


Jika kau mencintai seseorang, kau akan menaruhnya di tempat paling nyaman di hatimu, hingga setiap kali ia menatap matamu, ia temukan dirinya berpijar di sana. Kau tidak akan pernah lelah belajar mengenali diri dan jiwanya hingga ke sumsum tulang. Hidupmu penuh gairah, tak abai sekejap pun atas keberadaannya. Maka sampailah kau pada keputusan itu : kau akan setia pada tiap nafas, getar, gerak saat bersamanya, hingga nyawa berpamitan untuk selamanya pada jasadmu. Bahkan kau masih berharap semua tak akan pernah tamat. Kau mendambakan hari dimana kau dan dia kelak akan dibangkitkan kembali sebagai pasangan, yang terus bergandengan tangan melintasi jalan-jalan asmara, di taman surga-Nya.
Itulah cinta sejati, anakku…

(Helvy Tiana Rosa)

***
Rangkaian kalimat cinta ini saya temukan dengan pose paling cantik pada salah satu ruang di blog Helvy. Saya mencintai kalimat ini, dan saya ingin agar Helvy mengetahui bahwa saya telah menyimpan kalimat-kalimat ini di tempat paling nyaman di hati saya. Begitu menyusuri tiap kata pada rangkaian cinta ini saya merasa begitu hangat. Di dalam sini saya membenarkannya. Mengatakan ”iya” sampai akhir kalimat. Tidak sampai di sana. Saya kemudian menyebarkannya pada beberapa sahabat. Ada yang menulisnya didalam buku catatan, ada yang mengirimkannya lewat sms. Begitulah... dengan cepat rangkaian cinta sejati itu menyebarkan pesonanya pada orang-orang yang mengagumi cinta.

Sejak kecil saya suka dongeng. Saat tidur adalah saat yang saya tunggu. Dongeng dari bibi dan kakak sepupu. Seiring waktu saya mulai membaca sendiri cerita-cerita maupun dongeng yang saya inginkan. Di majalah-majalah anak, saya temukan dongeng-dongeng tentang peri dan penyihir. Atau kadangkala tentang putri dan pangeran. Tentang benci dan cinta juga kejahatan dan kebaikan. Saya menggilai cerita-cerita itu. Saat saya kecil saya membayangkan memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan buku cerita. Ruangan besar dengan buku bertumpuk-tumpuk. Akan saya habiskan waktu membacanya. Menyisiri jejak peri atau mengintip tarian para putri.

Di salah satu majalah anak itulah saya bertemu Faiz. Hanya sekilas. Yang saya ingat kalimat di majalah itu adalah ”jalan kupu-kupu”. Tapi itu benar-benar hanya sekilas. Beberapa tahun kemudian lah yang menghubungkan saya kembali dengan kalimat itu dan mempertemukan saya dengan Helvy. Ya... benar. Saya lebih dulu bertemu dengan puisi cintanya dibandingkan Helvy sendiri.


Sejak dulu saya sering merenung.. orang yang hanya terlihat sekilas, hanya sesaat Tiba-tiba saja memiliki pengaruh kuat di kehidupan mendatang. Sekilas yang mempesona. Sekilas yang menerbitkan sebuah rasa. Yang mungkin saja terlupakan tapi saat waktunya tiba, rasa itu muncul kembali dan menghentakkan maknanya. 


Seingat saya, pertama mengenalnya lewat jaring-jaring merah yang saya temukan terjalin dengan apik. Ia memerangkap hati saya tepat manakala mata saya menelusuri kalimat pembuka jaring-jaring merah. Pertemuan selanjutnya lewat ajakan menuju jalan kupu-kupu. Tulisan sederhana yang kembali mempertemukan saya dengan sosok Helvy. Dunia Helvy bagi saya adalah peta yang memuat sastra dan keluarganya. Salah satu karya dalam galeri dunianya terwujud dari puisi cintanya yang mencintainya seperti surga. Saya harus akui bahwa hal yang membuat saya tertarik lebih dalam pada sosok Helvy adalah Faiz dan jalan kupu-kupunya. 

Membaca karya Faiz membuat saya lebih mengenal Helvy. Saya seperti melihatnya dalam setiap huruf yang dirangkai Faiz untuknya. Mencintaimu seperti surga … kalimat ini juga membuat saya jatuh cinta. Kegombalan yang imut-imut , begitu saya menyebutnya. Jelas ada cinta disana, ada tulus dan tak lupa… iman.
Saya menyukai bacaan tentang cinta. Menggemari perasaan cinta dan menggandrungi puisi cinta. Sebab berbicara tentang cinta tidak akan pernah habis. Sejak dulu kekuatannya telah menjadi legenda. Berkali-kali diangkat dalam cerita dan berkali-kali pula mendapatkan penggemar. 

Pertemuan saya dengan rangkaian cinta Helvy membuat saya jadi sering menyusuri jejak pena kecilnya5. Berharap menemukan hangat lain yang memberi letup-letup rasa di hati. Ketika kembali menyusuri jejak pena kecil Helvy saya kembali pula menemukan cinta dengan pose manis :


Sebab setelah hujan, 
selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi dan memelukmu. 
Aku ingin orang itu selamanya aku…

Kembali sebuah hangat meresap pelan-pelan setelah membacanya. Itu adalah penggalan puisi Helvy di milad Faiz yang ke sebelas. Dalam pikiran saya terbayang pelangi yang melengkung sempurna dengan semburat warna selendang tujuh bidadari. Pelangi yang menenangkan setelah hujan dengan warna cinta aneka rupa. Setiap cinta punya warna sendiri.. stoknya akan sulit sekali habis.

Saya ingin Helvy terus menulis tentang cinta karena ia akan melahirkan hangat di hati. Mungkin Helvy tidak akan pernah tahu berapa banyak yang akan terpikat, yang akan merasa nyaman ataupun kemudian berkeinginan melahirkan cinta sepertinya. Tapi yang jelas... orang yang menemukan jejak cintanya tahu seberapa besar pesona cinta itu menerbitkan hangat dan nyaman di hati. 

Bukankah salah satu hal yang mengobarkan letup rasa di hati Helvy untuk menulis adalah kalimat singkat Putu Wijaya yang dengan sederhana menulis :


” Helvy... menulis adalah berjuang”.

Saat itu kemungkinan besar Putu Wijaya juga tidak tahu bahwa tulisannya lah yang mendendangkan syair semangat bagi Helvy untuk terus menulis. Tapi dengan jelas Helvy tahu dan ia tetap mencatatnya. Begitu juga dengan saya yang telah membaca prasasti cinta Helvy. Saya pun mencatatnya. Dengan pena yang saya beri nama cinta.
Sebelum saya menulis tentang Helvy, saya berpikir keras tentang apa yang paling saya butuhkan jika akan menulis tentangnya. Di saat itulah saya teringat tentang tulisan “cinta” nya pada Putu Wijaya. Bila Helvy termotivasi menulis karena kalimat Putu Wijaya maka saya termotivasi karena tulisan Helvy tentang Putu Wijaya. Ini mungkin bisa disebut sebagai estafet motivasi. Masih dengan kalimat yang sama seperti yang ditulis Putu Wijaya kepada Helvy : “Menulis adalah berjuang”.


Saya ingin melanjutkan estafet motivasi ini pada orang lain. Dan... di sinilah saya dengan tulisan ini, yang merupakan sebuah jejak baru perjuangan saya. Di saat ini, kembali terlintas rangkaian kalimat cinta itu... rangkaian kalimat yang membuat saya merasakan hangat di dalam sini. Rangkaian cinta dari puisi yang ingin menjadi pelangi bagi orang-orang yang ia cintai.


Jika kau mencintai seseorang..
kau akan menaruhnya di tempat paling nyaman di hatimu.



Saya mencintai sastra dan dunia menulis, sehingga saya ingin menyimpannya di tempat paling nyaman di hati ini... 
Begitupun jika suatu saat saya menemukan cinta saya... 

Mataram, 14 April 2010

Note:

Terima kasih bunda Helvy...
atas rangkaian kalimat cinta
itu..

2 comments:

  1. tulisan ini sy ikutkan dalam loba menulis tentang Helvy.... terkirim di detik terakhir. dikejar deadline. tapi saya merasa begitu nyaman menulisnya. karena saya menulis apa yang saya rasa. kepada Helvy Tiana Rosa. terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Kren.... saya berkunjung lagi. Salam

    ReplyDelete

Mendongenglah...