Wednesday, November 2, 2011

Bantu Somalia Yuuk....


Photo di atas saya rasa berbicara dengan bahasa yang bisa anda mengerti.
Ini hanya menyambung apa yang saya dapat dari Annida Online...

Setelah berhasil mengumpulkan dana sebesar empat juta empat ratus ribu Rupiah dalam program #Dari Sobat Nida untuk Somalia, dan menyerahkan langsung pada Aksi Cepat Tanggap (ACT) Foundation, Annida-Online kini kembali membuka program penggalangan dana yang sama tahap kedua.  
“Mendengar penjelasan dari tim ACT, bahwa keadaan emergency bencana kelaparan di Somalia diperkirakan akan berlangsung selama satu tahun. Dana yang terkumpul di tahap awal saja baru terjaring dari dua puluh orang donatur, masih sedikit sekali yang ikut serta, oleh karena itu Annida-Online akan meneruskan program Dari Sobat Nida untuk Somalia tahap kedua,” papar Syamsa Hawa, selaku Redaktur pelaksana Annida-online di saat acara penyerahan dana untuk Somalia kepada tim Aksi Cepat Tanggap (18/09).

Bagi yang ingin berpartisipasi (lagi) maupun baru ingin bergabung dalam program "Dari Sobat Nida untuk Somalia", dapat menyumbangkan dana melalui rekening 

Bank Syariah Mandiri atas nama Yayasan Insan Media Peduli 
no. rekening 039-010-7788
Bagi yang telah mentransfer dimohon untuk meng-sms ke 0838-99-6474-39 dengan format sbb: 

nama-waktu transfer-jumlah transfer,contoh: Nino-29 September 13:10:15-Rp.500ribu.
Dana yang terkumpul bisa di lihat di  di web annida-online.

untuk info lebih lengkap bisa dilihat di web Annida online..  ada kilasan video yang tak copas dari Annida juga...

video





Ending???

Bagaimana jika tidak ada cara terbaik untuk mengakhiri sebuah cerita kecuali dengan kematian?
Ada begitu banyak film, dan cerpen yang menutup kisah dengan matinya tokoh. Namun  entah mengapa kematian terkadang justru semakin mengindahkan akhirnya. Apakah karena banyak orang berpikir tentang surga? Atau apakah justru cara paling pas mengakhiri cerita adalah dengan melenyapkan pelakunya. Mengirimnya ke dunia yang tak seorang hidup pun tahu gambarannya.

Pengarang memang sering mengambil peran pembunuh. Bahkan untuk karakter yang paling dicintainya. Adakah pilihan itu diambil karena munculnya kekhawatiran dalam diri pengarang? Takut tokohnya bertemu dengan suatu masalah berat dan akhirnya bunuh diri tanpa sepengetahuan pengarang? Akhirnya dalam kekhawatirannya si pengarang membunuh tokohnya. Bisa jadi itu bentuk kekhawatiran atau hanya masalah ketidakpercayaan akan kekuatan sang tokoh yang pengarang ciptakan sendiri.

Lalu bagaimana dengan ending cerita yang menggantung?
Ah.. ini cerita tentang pengarang lain.. yang mungkin memang mempercayakan pilihan  hidup pada sang tokoh… gantung gak gantung yang jeals cerita gue “end’ katanya…
Sekali lagi… ini hanya MUNGKIN…

Saat pusing mikirin ending cerpen, oct 2011