Sunday, September 22, 2013

Menang Mini Give Away Tarapuccino Hadiah 3 Novel

Pengumuman dari Blog Mba Riawani Elyta :) *seneng
Setelah Menang Mini Give Away beberapa waktu yang lalu, saya jadi rajin menyambangi Syaikh Gugel. Tanya-tanya kali aja ada Give away lain yang cocok ama saya. Eh, alhamdulillah nemu juga Kuis Give Away berhadiah 3 buah novel dari Mba @RiawaniElyta. Tantangannya menulis Flash Fiction yang nggak lebih dari 200 kata. 

Karena merasa cocok dengan kuis ini, akhirnya aku putuskan untuk ikut serta dan mulai menulis, kurang lebih 15 menit kemudian Flash Fiction ku yang berjudul Pahatan Luka selesai. Tanpa pikir panjang, aku posting saja di kotak komentar blog Mba Riawani. 

Setelah memposting FF,  kusempatkan untuk membaca FF peserta Give Away lain, *ceritanya ngintip saingan hehe, dan mulai sok-sokan melakukan penilaian. Waktu itu FF berjudul Dialog Terakhir yang ditulis oleh mas Dedul kuperkirakan bakal jadi salah satu kandidat pemenang. Bagus soale.. *plok plok

Dan ternyata perkiraanku benar, 1 jam yang lalu Mba Riawani Elyta men-tag pengumuman Give Away ini di Facebook. Ada 3 pemenang, salah satunya aku *hehehe. Yuk simak 3 Flash Fiction yang terpilih di bawah ini :)

# Dialog Terakhir karya @dedulfaithful

"Daun, apakah kau percaya Tuhan mencintai kita?" Ranting bertanya.
Jujur, aku tak mengerti pertanyaannya. Kucoba memikirkannya sejenak, sembari membiarkan Angin meliuk-liukan tubuhku.

"Cinta Tuhan pada kita terlalu rumit untuk dilukiskan. Kita hanya perlu bersyukur."
Aku melihat Ranting semakin serius, "Lalu, kenapa ia memberikan kita cobaan yang tak mudah kita lalui?"
Aku tersadar, sekujur tubuh Ranting mulai memucat. Meski tak separah keadaanku, bukan berarti ia merasa lebih bersyukur.

"Agar jika suatu saat kita terlahir kembali, kita bisa lebih siap menghadapi semuanya dengan lebih baik. Mungkin nanti, kita akan dihidupkan lagi di sebuah padang yang lebih tandus daripada ini, rencana Tuhan selalu misterius ..."
Aku tahu Ranting lelah hidup seperti ini. Menjalani kehidupan membosankan di tengah gurun pasir yang tandus bersamaku, daun-daun yang lain, dan ranting-ranting yang lain.

"Kita adalah dua bagian terakhir dari pohon ini, yang lain telah pulang entah ke mana terlebih dahulu. Aku mohon maaf jika selama ini aku bersalah padamu ...."

Tanpa Ranting tahu, aku pun sebenarnya ingin mengucapkan itu. Karena suatu hal yang tak pernah kuduga, aku dengan terpaksa harus meninggalkannya. Aku menyesal tak buru-buru membalas kata-katanya. Hingga semilir Angin tak membuatku menari lagi, melainkan membuatku terlepas dari genggaman Ranting, untuk selamanya. Mafkan aku Ranting .... []

# Pahatan Luka karyaku (^.^)//

Dalam sepasang mata itu ada pahatan luka. Aku kerap memintanya berbicara tentang lukanya, memohon agar ia mau membaginya dengan seseorang. Namun ia memilih bersembunyi dalam senyum, lalu buru-buru menunduk menyembunyikan saput dalam tatapnya, takut seseorang yang awas menemukan remah-remah cinta dan pahatan luka di sepasang bola matanya.

Namun, jika beruntung memandang matanya lebih lama, selain remah-remah cinta dan pahatan-pahatan luka, akan kalian temukan sebuah harap yang tetap hidup. Aku tahu benar tentang harapan itu, ia kerap babak belur namun anehnya, walaupun kecil ukurannya, redup nyalanya, ia tetap saja hidup…
Setiap kali kuceritakan kisah ini, orang-orang akan bertanya bagaimana aku bisa tahu tentang luka gadis itu, bagaimana mungkin aku bisa paham tentang harapnya yang tetap hidup kendati menyalapun tak pernah benderang. 

Kubiarkan mereka berbisik membuat jawaban dan terkaan sendiri. Mereka bilang aku pastinya seorang alim yang bisa menelisik bathin seseorang, ada lagi yang bilang aku pastilah petapa sakti yang telah mencapai tarap waskita. 

Aku hanya menjawab “ya, aku melihat jelas gadis itu dan aku menatap langsung sepasang matanya”. Namun, tak pernah kuungkap pada siapapun bahwa aku pun melihat jelas saat bibirnya mengucap do’a yang samar. Dan…

Bahwa aku melihat gadis itu dalam cermin...

# Memotret Sejarah karya @lucktygs

Sudah tujuh tahun aku bekerja menjadi fotografer. Tujuh tahun pula tumbuh cinta sejak pertama kali mengenalnya. Hubungan kami layaknya air mengalir yang mengikuti arus. Dia meninggalkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tidak pernah ada komitmen di antara kami. Wajar, bila dia pergi begitu saja.

“Datang ya ke pernikahanku. Pokoknya aku mau kamu jadi fotografer di pernikahanku.”, bujuknya beberapa hari yang lalu sembari memberikan undangan pernikahannya. Senyumnya merekah, terlihat sekali dia bahagia, tak sabar menunggu hari yang dinanti tiba.

Perih. Itu sungguh perih. Dulu aku selalu bilang, mana mungkin aku memotretmu. Aku akan menjadi pendampingmu. Dia tertawa, aku juga tertawa. Sekarang lelucon itu tidak lucu lagi. Sungguh tidak lucu.

Besok, adalah hari pernikahannya. Seorang teman menggantikan tugasku yang akan memotret pernikahan mereka. Harapan bersanding dengannya telah pupus.

Aku memilih di sini. Memilih memotret peristiwa gempa berskala 7,6 skala Ritcer yang meluluhlantakkan ranah minang. Jeritan para korban gempa. Bangunan-bangunan roboh. Pohon-pohon tumbang. Hujan deras mengguyur Padang. Padang menangis, aku pun menangis. Namun aku ingin seperti Jam Gadang, saat angin kencang menerpaku , tetap tegar berdiri tegak.

Memotret para korban gempa memang sungguh pedih, tapi lebih menyakitkan bila aku memotretnya bersama yang lain. Cinta lebih berarti di sini...

Ada sesuatu yang lebih dari GiveAway ini, saya jadi bisa kenalan dengan mba Riawani, juga membaca beberapa Flash Fiction yang membuat saya diam dalam renungan. Saya selalu suka kisah, mungkin karena bertahun lalu.. saat saya masih kanak-kanak, saya pun lebih banyak belajar dari dongeng di majalah anak, dari kisah, ya.. dari cerita-cerita...

Bahkan sampai sekarang, saya mendapati diri saya menjadi lebih suka mendengar :)

5 comments:

Mendongenglah...