Wednesday, April 24, 2013

Keluh sebuah Bayang (Dimuat di Annida Online 24 Oktober 2012)



Dalam gelap, aku menghujat tuanku!
***
Aku lahir dari cahaya. Kemudian bergerak mengikuti wujud tuanku, patuh pada geraknya, turut dalam tindaknya. Menjadi pendengar dari serapahnya, menjadi saksi dari laku-lakunya. Ya.. menjadi sebuah bayang. 

Ia bejat, kusebut saja begitu. Namun otaknya cukup cerdas. Ia lihai mencipta rencana perampokan, bahkan sketsa pembunuhan orang-orang penting. Dulunya ia hanya seorang bayi lucu yang lahir dari rahim seorang perempuan nakal Beruntung sekali, perempuan itu melahirkan anak cerdas. Laki-laki dan tampan pula. Pemilik benih pastilah tampan pula. Namun sayang, kemungkinannya ia juga bejat. Bayi itu besar dengan cacian, makian dan sumpah serapah tiap hari. Tak heran jika kata pertama pada ucap mulut mungilnya adalah
jadah! Ibunya kaget namun bertepuk keras sembari berteriak mengabarkan bahwa sang anak telah bisa berbicara dan kata pertamanya ia ucap teramat fasih. Hari itu makian terdengar begitu lucu. Namun kurasa tawa tak pernah benar-benar rela mengiringinya? 
Di usia  empat tahun, ia menjadi begitu lucu dan meggemaskan. Apalagi dengan gaya menyumpahnya yang dibilang imut. 

“Blengcek kamu! blengcek kamu!”

Tak apa. Makiannya masih terdengar lucu. Dan si ibu masih tertawa dengan tepuk sanjung. Di usia sembilan tahun. Ia sering pulang menangis karena tak ada yang memuji gaya memakinya. Alih-alih sebuah puji, ia dihukum sebagai gantinya. Selain itu ia sering tak tahan karena dikatai tak punya ayah. Ketika teman-temannya mulai mencemooh, ia dengan lantang berseru dengan seru yang sama seperti yang diajarkan ibunya.

“Kamu bodoh! Kalau nggak ada ayah aku mana bisa lahir bego!”
“Terus ayah kamu mana?”
“Mati!
“Mati kenapa?”
“Kecelakaan mobil!”
“Kapan matinya?”
“Waktu aku masih di dalam perut!”

Ia bisa menjawab semua pertanyaan kawannya dengan mudah dan cepat. Tapi ia tak pernah bisa menjawab pertanyaan terakhir. 
“Siapa nama ayah kamu?”

Dan ia hanya diam dengan mulut terkatup. Senyap sendiri dalam kekalahan telak. Hatinya mulai dirayapi gelap. Sejak saat itu ia tahu, bahwa dari awal ia hanya disudutkan untuk mengakui satu hal. Bahwa ia memang tak berayah. Dalih apapun tak akan mampu membuatnya menang. Bahkan sang ibu menggeleng tak tahu, ketika ia dengan mata basah bertanya tentang sebuah nama.
***
 Saat remaja, tuanku berpisah dengan ibunya. Gara-gara hal sepele. Mereka bertengkar seperti biasanya tentang sesuatu yang tidak jelas. Mungkin keduanya sama-sama bosan. Tuanku marah, melempar kursi. Lalu perempuan yang melahirkannya itupun angkat bicara. Memaki berkali-kali. 

“Anak tak tahu diuntung! Syukur kulahirkan kamu!”
“Aku tidak minta!” jawab tuanku dingin!
“Anak setan!” bentak perempuan itu sambil melempar puntung rokok dari tangannya. 
“Aku anakmu! Jadi kita sama-sama setan!”
“Pergi dari sini! Seharusnya kamu kugugurkan dulu! Kamu sama sekali tidak berguna!”

Lalu tuanku benar-benar pergi dari rumah itu. Tak seperti biasa, ia benar-benar pergi dan tak pulang. Masih kuingat, siang itu matahari yang mengundang wujudku. Semuanya berubah setelah beberapa tahun. Kurasa perempuan itu juga telah menyadarinya, bahwa makian yang tuanku lontarkan tak lucu lagi. Mungkin karena dulu ia mengucap tanpa tahu makna. Ia mengira begitulah bahasa kasih. 

Tak punya rumah membuat tuanku berkarir di jalanan. Bertemu temannya, Kedi dan Ajit, lalu sama-sama nyopet. Karir tuanku melonjak naik ketika bakat copetnya menarik perhatian ketua rampok. 

“Dilihat dari wajahmu, kamu nggak bakat jadi maling!”

“Dilihat dari wajahnya, dia juga nggak cocok jadi pejabat!” jawab tuanku, sambil menunjuk gambar seorang anggota dewan pada sebuah papan iklan kemasyarakatan. Dan ketua rampok itu terbahak. Merasa menemukan titisan. 

Rencana-rencana yang cerdas membuat ketua rampok makin menyukai tuanku. Pendapatan mereka melesat naik sejak tuanku bergabung. Dalam waktu singkat ia sudah jadi kaki tangan rampok. 

Pembunuhan pertamanya pada seorang wanita muda yang ia rampok motornya. Rencana awalnya meleset karena wanita cantik itu ternyata lumayan keras kepala. Jika saja ia diam dan menyerahkan motornya maka ia akan tetap hidup. Tapi wanita itu bersikeras mempertahankan miliknya. Apalagi wanita itu menguasai sedikit ilmu bela diri. Tapi tetap saja.. ia tak kuat melawan tuanku. Tusukan pisau merobek dadanya. Ia rubuh dengan darah yang merubah warna jilbabnya. 

Dalam remang lampu jalan, kulihat tuanku terpaku sejenak. Menatap gadis di depannya yang telah menjadi mayat. Pembunuhan itu terjadi begitu saja. Tanpa rencana, mereka berkelahi. Lalu pisau itu tertancap begitu saja. Membuat tuanku gemetar sejenak, sebelum akhirnya ia bergegas lari. Namun gadis itu menahan pergelangan kakinya. Bertahan hingga akhir. Ada sorot marah di mata itu, namun tuanku melepaskan diri dengan satu hentakan, lari dengan motor gadis itu. Kasusnya sempat merebak dan menjadi topik panas di koran harian. 

“Aku bahkan tak pernah berniat sejauh itu. Pembunuhan itu hanya kecelakaan. ya.. bukankah kecelakaan namanya jika tak direncanakan? Bagaimana Jit?” Tanyanya pada kawannya yang ikut malam itu. Laki-laki yang dipanggil Ajit hanya mengangguk, ia sibuk dengan rokoknya. Namun minggu berikutnya berita itu hilang, koran harian telah mengganti berita utamanya. Berita yang biasa dengan pelaku berbeda. Seorang pejabat lagi-lagi korup. 
***
 “Kali ini target kita orang politik!” kata tuanku. Di depannya telah berkumpul Ajit, Sarman, Barok, Dani, Junet, Romeo, Kribo dan Kedi. Mereka mendengarkan detil rencana tuanku. Target mereka ternyata seorang pengusaha yang berencana nyalon jadi pejabat. 

“Ia pasti punya banyak modal untuk nyalon. Kita sikat!”
“Masalah lapangan sudah kuurus, pembantunya sudah ada di pihak kita. Kita hanya perlu bermain drama untuk membuatnya lebih alami”. 
“Kira-kira berapa?” Tanya Kedi.
“Istrinya pamer perhiasan. Selain itu dia punya brankas dalam ruang kerjanya. Masalah kode. Tak usah khawatir. Dia akan membukakannya untuk kita”.
“Maksudmu!” tanya Barok. Tuanku hanya tersenyum simpul. Memberi jeda membuat temannya penasaran. 
“Ia punya anak gadis cantik! Kita hanya perlu gertak sedikit.” Ketujuh temannya hanya mengangguk mengerti.
“Kapan?” desak Kedi penasaran.
“Tiga malam lagi. Besok kau dan Ajit turun mengamati. Lihat situasi, terutama siapa tetangganya. Walaupun pembantunya sudah memberi detilnya. Aku ingin semuanya pasti. Jadi sebisa mungkin tidak akan ada yang diluar rencana kita. Romeo kau urus pembantunya, pastikan dia tidak membuat kesalahan atau meninggalkan bukti. Aku tidak mau ada satu pun jejak sehingga anjing polisi mengendus kita. Yang lain kalian tahu apa yang perlu kita siapkan”. 

Dalam ruangan bercahaya remang itu mereka khusyuk membuat sebuah sketsa perampokan. Aku melihat tujuh bayangan lain, sama murungnya denganku. Kami mengeluh lelah menjadi bayang dari manusia yang tak mau melihat tanda Tuhan. Bahkan ada bayangan yang menangis karena keluhnya yang merana, tak dimengerti sang tuan. 

Remang lampu dalam ruangan ini entah mengapa mengingatkanku pada gadis pertama yang dibunuh tuanku. Bayangannya tak seperti bayangan yang pernah kulihat. Ia bayangan tercantik, bahkan di detik terakhir ia mengucap kalimat yang tak kukenal. Kurasa itu kalimat-kalimat Tuhan, satu-satunya bayangan yang membuatku memantaskan diri merasai iri. Kadang aku mengira-ngira seperti apa rasanya mendengar tuanku mengucap asma Tuhan. Seperti apa rasanya ketika para bayangan berjalan seiring dengan tuannya memenuhi panggilan azan? Azan.. jika aku bisa, aku pasti sudah memisahkan diri dari tubuh tuanku. Menjadi bayangan yang bebas. Tanpa tergantung pada seorang manusia.
***
Pria kaya calon pejabat itu ambruk ke lantai. Darah mengalir dari dadanya. Istrinya memekik tertahan. Menangis takut.

“Sudah kubilang jangan macam-macam!” gerutu Kedi. Ia mengarahkan pistol yang dilengkapi peredam suara kepada Nyonya rumah itu. Sebuah isyarat agar wanita itu bungkam. Sementara tuanku seperti biasa menjadi penonton. Di sampingnya, Ajit dan Sarman bergerak cepat memasukkan uang dan perhiasan ke dalam tas ransel. Sementara Romeo dan Kribo sedang memainkan drama dengan pembantu rumah ini. Mereka telah bersepakat untuk mengikat pembantu itu di dapur. Sebuah adegan yang akan membebaskan si pembantu dari kecurigaan. 

Setelah selesai menguras harta pemilk rumah. Ajit dan Sarman mengikat nyonya rumah dan putrinya. Menempelkan lakban di mulut mereka, dan dibalik topengnya ia sempat mengerjit nakal pada putri pria kaya itu. 

“Semua selesai?” tanya tuanku. Ajit, Sarman, Kribo, Romeo dan Kedi mengangguk mengiyakan. Mereka bergegas keluar dari rumah itu. Menuju mobil tempat dua teman mereka yang lain menunggu. Sebelum pergi, tuanku mengalihkan tatapnya ke arah mayat tuan rumah itu. 

“Keras kepala”, gumamnya kecil. 
Ada yang berdesir di hatinya. Rencananya meleset lagi. Namun hanya sebentar, setelah itu ia melangkah gagah meninggalkan ruangan.
***
Malam ini cahaya bulan kembali  membentuk wujudku. Dalam remang aku berjalan sejalan dengan tuanku. Dalam pikirnya ia mungkin telah menghitung jumlah korban-korbannya. Atau mungkin menyesali sikap keras kepala korbannya yang tadi. Jika ia tak melawan, tak perlu Kedi menembak dan membuang pelurunya. 

Tuanku terus melangkah tanpa bicara. Anak buahnya mengikuti, juga tanpa suara. Akan ada waktunya berpesta, jadi mereka hanya perlu menahan diri untuk sebuah sukacita. Di tikungan jalan yang gelap telah menunggu sebuah mobil hitam. Semakin lama cahaya bulan semakin samar. Terhalang rerimbunan. Aku timbul tenggelam. Mengecil, menyusut... Tuhan... jika seaandainya tuanku tumbuh dengan mendengar kalimatmu. Mungkin aku akan bisa berdoa. Agar sebuah cahaya tetap berada di sisinya, cahaya yang menjadikanku tetap ada. 

Akhirnya, seperti halnya sebuah bayangan. Ketika tuanku menjauhi cahayaNya maka aku akan hilang perlahan. Dan ketika gelap menyempurna. Aku tiada. Sebelum aku tertelan dalam gelap yang purna itu. Di sanalah untuk pertama kalinya aku menghujat tuanku, dengan kata yang masih kuingat jelas. Kata pertama yang kudengar darinya. 

Namun siapa yang mengenal bahasa sebuah bayangan? Hujatanku tertelan gelap, redam dalam sebuah mobil hitam yang melaju di jalanan. Dari atas langit, cahaya bulan mencoba menerobos masuk lewat kaca-kacanya.
*End*
Lombok Timur, September 2012
source: Annida Online

4 comments:

  1. Huaaa..
    Kapan yaa aku bisa nulis sekeren itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. uwooo pujian? *triiiiing triing thank you :) tulisan dikaw juga keren Pieq, di notes Fb kan sering ngepost.. :)

      Delete
  2. Q nulis g pernah selesai" ....
    Berhenti di tengah jalan terus.
    Minta doanya ia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga lancar dan tak berenti di tengah jalan lagi :)

      Delete

Mendongenglah...