Thursday, November 16, 2023

Belajar Bahasa Inggris Melalui Serial Horor Mr. Midnight


Salah satu cara asyik belajar bahasa asing adalah dengan menonton film. Untuk kalian yang suka film ringan dengan tema remaja dan persahabatan coba intip series Mr. Midnight. Series ini akan cocok dipasangkan dengan cemilan favorit kalian. Tenang saja, sekalipun series horror tapi horornya bukan yang membuat kita sampai tidak berani ke kamar mandi sendirian kok.

Mengapa saya merasa Mr. Midnight cocok untuk pelajar yang sedang belajar Bahasa Inggris? Menurut saya bahasanya ringan, aksen yang aman di telinga membuat saya merekomendasikan Mr. Midnight sebagai tontonan untuk mengasah dan menambah kosakata bahasa Inggris pemula. Seperti saya ini lah contohnya hehe. Dari segi cerita juga remaja friendly karena memang bertema anak sekolahan.

Mr. Midnight ini merupakan serial remaja produksi Beach House Picture. Series ini diangkat dari serial buku horor yang populer di Singapura berjudul Mr. Midnight karya James Lee. Pada awal tontonan saya menduga-duga bahwa ini adalah produksi lokal, karena wajah pemainnya Indonesia sekali. Apalagi ketika mulai dialog, tokoh Tyar bukannya memanggil mommy, atau mom tapi Ibu. Aksennya juga menurut saya sangat akrab di telinga. Tidak heran karena Tyar diperankan oleh Idan Aedan yang merupakan aktor dari Malaysia.

Series ini merupakan kolaborasi antara beberapa aktor dari Indonesia, Singapura dan Malaysia. Hal ini yang kemungkinan besar membuat nuansanya seperti melihat film Indonesia namun dengan bahasa Inggris. Saya rasa ini cocok untuk ditonton oleh kalian yang sedang atau mau belajar bahasa Inggris. Dialog-dialognya ringan, khas remaja dengan aksen yang tidak njelimet di telinga sehingga memudahkan untuk memahami kata-katanya. Ada 13 episode dengan durasinya yang tak lama, hanya 30 menit untuk setiap episode. Aman kan?

Alur cerita Mr. Midnight

Di awal episode saya langsung menyukai series ini. Narasi tentang setting tempat Tanah Merah dan misterinya dijadikan pembuka. Series ini menceritakan tentang Tyar dan sahabatnya yakni Ling, Nat dan Zoe yang mulai berhadapan dengan fenomena-fenomena aneh nan mistis di sekitar mereka.

Peristiwa-peristiwa mistis yang berhasil mereka selesaikan ditulis dalam blog yang diberi nama Mr. Midnight. Dengan bimbingan ayah Ling, Tyar berusaha memaksimalkan kemampuan dukunnya untuk membantu para hantu dan menyelesaikan beberapa masalah yang ternyata merupakan ulah dari iblis yang bernama Hutan Lahir.

Hal tersebut semakin kompleks ketika Tyar yang ternyata memiliki darah dukun mulai mencari rahasia yang disembunyikan orang tuanya. Khawatir akan bangkitnya sang iblis Hutan Lahir, Tyar dan sahabatnya berusaha untuk untuk mencegah walaupun di tengah usaha, mereka harus berhadapan dengan sang ibu yang menolak mengungkap rahasia kekuatan dukun yang dimiliki Tyar.
Masalah-masalah yang dihadapi juga tak melulu tentang hantu, pertengkaran Tyar dengan ibunya, konflik antar sahabat dan permasalahan setiap tokoh juga menjadi warna dalam series ini. Enjoy!

Budaya Ketoprak, Cinta dan Dakwah dalam Novel Nun oleh Afifah Afrah

Membaca adalah jendela dunia. Buku diumpamakan sebuah jendela yang akan mengantar kita pada pemandangan menakjubkan tentang banyak hal. Dalam novel karya Afifah Afrah ini kita bisa menemukan kisah cinta, perjuangan hidup, pengetahuan tentang budaya Indonesia dan dakwah. Budaya ketoprak asal Surakarta yang dimunculkan dalam novel ini bukan hanya sebagai penghias atau pemanis. Bagi mereka yang suka menulis, membaca novel ini bisa memberi inspirasi tentang bagaimana memadukan suatu pengetahuan budaya dalam karya fiksi. Hal ini menyadarkan bahwa sebagai warga Indonesia sudah sewajarnya kita menampilkan dan memperkenalkan budaya sendiri lewat karya, dan Afifah Afra melakukannya dengan baik. Ia menyisipkan 11 macapat yang merupakan urutan kehidupan sebagai alur setiap bab novel ini. 

Sedikit membahas tentang budaya ketoprak yang digambarkan dalam novel. Ketoprak merupakan suatu seni pertunjukan tradisional yang dulu dipentaskan sebagai hiburan bagi rakyat setelah seharian bekerja. Selain sebagai hiburan, tujuan lain ketoprak adalah menanamkan nilai-nilai moral untuk menumbuhkan jiwa kejujuran atau kepahlawanan. Nampak bukan? Bahwa leluhur kita telah mengenal drama musical sejak lama. 

Tokoh novel ini adalah seorang gadis manis bernama Nun. Mengingat Afifah Afra adalah seorang penulis cerita islami, nama Nun rupanya terinspirasi dari ayat Al-Quran surah Al-Qolam. Nama yang unik dan berbeda dari tokoh novel lain. Nun Walqolami. 

Nun tinggal di tepi kali Anyar bersama keluarganya. Ia digambarkan sebagai gadis cerdas dari keluarga pemulung, yang harus menyimpan mimpinya untuk menjadi guru karena tak mampu melanjutkan sekolah. Penyebabnya tak lain sulitnya keadaan eonomi keluarga. Hidup membawanya menjadi pemain ketoprak bersama tetangga karismatik yang menjadi cinta monyetnya, Mas Wir. 

Pangeran lain dalam kehidupan Nun datang melalui sosok Naya. Seorang pemuda cerdas yang tertarik meliput pertunjukan grup ketoprak yang dimainkan kelompok Nun. Sejak liputan itu bukan hanya pertunjukan ketoprak yang mulai ramai pengunjung, namun perasaan Nun dan Naya juga turut ramai oleh debar rasa. Tidak semulus kisah para putri, cinta Nun dan Naya mengalami pasang surut. Kehidupan menuntun Nun melalui banyak hal, kebahagian, kekecewaan dan yang terparah adalah ia kehilangan anggota keluarga dengan cara menyakitkan. masalah-masalah dalam hidup menjadikan Nun menderita gejala depresi. Masalah psikologis juga menjadi warna lain dalam cerita ini. Fenomena mistis yang diceritakan di awal novel nampaknya merupakan suatu kondisi psikologis yang berkembang menjadi rumor dikalangan masyarakat. Lewat Nun, rumor tersebut nampaknya ingin dijadikan sebagai pembelajaran tentang mental health oleh Mba Afifah agar kita tak melulu membawa mistis terhadap fenomena yang dianggap aneh atau janggal.

Pada akhirnya di ujung kisah, Nun juga menjadi sebuah nasihat bagi para pencari jodoh. Bagaimana perjuangan meyakinkan orang tua akan pilihan hati, pilihan yang akhirnya diambil dengan risiko harus mengorbankan pilihan lainnya. Tokoh-tokoh dalam cerita ini seakan memberi pesan bahwa memilih belahan jiwa bukan hanya mengenai rasa namun kita perlu mempertimbangkan kekufuan dan adanya restu. 

Tentang Buku 

Judul           : Nun Pada sebuah Cermin (Fiksi) 
Penulis        : Afifah Afra
Penerbit      : Republika/2015 
Tebal           : 370 halaman

Monday, December 14, 2015

[Cerpen Writing Project #DearMama] 3 Aroma Ibu

Ibu?
Ia terkadang seperti kesedihan yang terlalu sempurna.
Ia jarang mengucap bahasa cinta, namun selalu memeluk kami dengan doa yang tak putus-putus. Agar kami sehat, kami cerdas dan mendapat jodoh yang baik. Yang setia. Yang tak gemar memberi luka, seperti bapak.
***
--Aroma hujan
Lukisan di kepalaku tentang ibu adalah sepasang payudara yang nampak layu dengan dominasi warna abu-abu. Sedangkan ingatan paling dalam yang kupunya  adalah sepasang matanya yang sembab di suatu sore. Awalnya kukira karena aku pulang terlambat dan dalam keadaan kotor pula sehabis bermain di genangan-genangan air yang ditinggalkan hujan. Tapi tidak! Bukan itu. Bertahun kemudian ketika aku telah remaja dan mampu membaca raut, aku paham alasannya menangis sore itu. Hatinya luka, dan mengetahui luka itu hatiku pun ikut luka.
Aroma hujan di bulan Desember membawa luka lain di hatiku. “Selamat ulang tahun,” kata ibu. Suaranya terdengar ceria. Dan sampai sekarang ia tak pernah tahu bahwa bulir tangisku pecah tanpa suara ketika di Desember 2010 itu ia mengucapkan selamat ulang tahun dan membawa sepasang sepatu yang ia beli di pasar dengan harga lima puluh ribu. Aku ingat bercerita tentang model sepatu baru yang kulihat sering dipakai teman-teman kampus. Ibu menemukan tiruannya di pasar, dan demi melihat kakiku memakainya ia menerobos hujan dan riuh pasar.
Menyadari itu hatiku terluka, aku merasa sangat buruk ketika di bulan yang sama aku bahkan lupa mengucapkan selamat padanya. Selamat untuk harinya, hari ibu.
Aku tahu, lamat-lamat di setiap turun hujan ia mendoakan kebaikan-kebaikan di sepanjang umurku.
“Berdoalah! Keluarkan doa terbaikmu, hujan itu membawa barakah nak,” pesannya. Dan ibu akan senyap sebentar, khusyuk pada pinta-pinta terbaiknya. Selalu… selalu tentang aku, kami. Anak-anaknya.

--Aroma Bawang Merah
            Kalian tahu apa masalah terbesar para bayi kebanyakan?
Berpisah dari puting ibunya.
Kalian tahu apa yang diharapkan anak sepulang sekolah?
Sepiring makanan hangat dan pelukan yang menyambutnya di pintu rumah.
Walaupun mungkin kecupan di keningnya dari bibir pucat yang tanpa lipstick dan pelukan itu beraroma kecut keringat. Baginya, ibu sendiri yang tercantik. Tapi mungkin tidak bagi bapak.
            Ibu harusnya bisa merawat diri, tuntut bapak. Namun waktunya yang 24 jam telah terkuras untuk di dapur dan sumur. Banyak mainan dan barang yang harus dirapikan. Ada setumpuk pakaian yang harus dicuci dan disetrika. Banyak tamu yang datang dan membutuhkan kopi. Banyak sanak yang harus dijamu.
Berhias? Ibu mandi dan mengenakan daster baru di sore hari. Selang beberapa menit. Waktunya makan malam. Ia akan masuk dapur dan terlihat bekerja cepat, membuat sambal bawang. Sambal tersaji, ada sembab di matanya, ada percikan sambal di daster barunya, dan oalah…. Aroma sabun itu telah terganti dengan aroma bawang. Tak apa bagiku, tak apa bagi kami anak-anaknya. Tapi mungkin tidak bagi bapak. Harusnya ibu wangi…. Harusnya.

--Aroma Kopi
Akan aneh jika aku terbangun tanpa ada aroma kopi. Sehabis subuh dengan masih mengenakan telekung, ibu akan sibuk menyeduh kopi. Untuknya… untuk bapak.
Aku selalu bertanya-tanya mengapa ibu bertahan dalam ikatan pernikahan yang telah melukainya sebegini banyak. Namun ternyata waktu telah mengikatnya dalam kenangan. Kata ibu, luka adalah bagian dari kenangannya. Namun ia juga punya banyak hal-hal manis yang ia simpan dalam peti ingatan.
Bagiku itu mungkin seumpama kopi yang selalu ia seduh sehabis subuh. Untuknya, untuk bapak.  
Mungkin bukan waktunya untuk heran. Bukankah kita tahu rasa kopi? Kenangan ibu pastilah seumpama itu. Pekat, pahit namun ia tetap menyeduhnya setelah berpuluh-puluh subuh, karena mungkin wangi kopi itu telah mengikat indra penciumnya, dan rasanya pastilah juga telah melekat pada cecap lidahnya.
***
Ibu?
Ia memang terkadang seperti kesedihan yang terlalu sempurna, namun aku hampir lupa ia juga pernah tersenyum, dan menangis tertawa karena lelucon bapak. Mungkin aku yang lupa dan mencoba melukis wajahnya dengan ingatan yang patah-patah. Mungkin aku yang tak lihai mengenal bahasa bahagianya. Mungkin aku perlu membersamainya saat gerimis turun di Desember ini, berbicara sambil menyeruput kopi dari cangkir yang sama. Berbicara tentang entah, lalu merencanakan yang nanti-nanti.
Tiba-tiba rindu ibu. Ingin pulang dan memeluknya. Namun sebelum itu dalam gerimis yang luruh satu-satu di magrib ini, kuamini sebuah doa dariku sendiri untuk ibu. Agar nanti mimpinya yang paling dalam, yang mungkin sering lupa ia panjatkan karena doanya sibuk mendahulukan kebaikan-kebaikan untuk kami dapat tercapai. Mimpinya sama dengan mimpi seorang tua di kampungku. Menjejakkan kaki di tanah suci, lagi-lagi aku yakin di sana.. ibu akan kembali memeluk kami dengan doanya. Agar kami sehat, kami cerdas. Ya…agar kami anak-anaknya ini…bahagia.


Catatan: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan oleh nulisbuku.com dan Storial.co

Monday, November 25, 2013

Mengenal Mehyar Khaddour : Pemeran Khalid bin Walid dalam Serial Omar

Tahu Mehyar Khaddour?

Nggak? 

Jika kalian penggemar Serial kolosal Omar - Umar bin Khattab-yang dulunya di putar di MNC TV pasti kenal wajahnya. Yup! Mehyar adalah pemeran Khalid bin Walid. Salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal jago berkelahi, menguasai taktik perang dan tenar dengan sebutan Saifullah (Pedang Allah).

Mehyar ini juga merupakan actor Syria, sama seperti Sameer Ismail yang berperan sebagai Omar. Ingat kan? Dulu pernah saya tulis di sini

Mau tebak berapa umurnya? Pas-pasan kok, 30 tahun. Ia lahir pada tanggal 10 Oktober 1983. Mehyar lulusan sebuah sekolah acting yang terkenal lho, yakni Syrian High Institute of Dramatic Art. Debut actingnya ia mulai di tahun 2007 pada sebuah film berjudul 'Antara", lanjut ke TV series lainnya yakni Zahrat Anrjis pada tahun 2008, Al Dawarma tahun 2009, lalu Al Ghoufran di tahun 2010, pokoknya banyak!

Selain itu katanya ia juga aktif dalam bermain teater, mungkin turunan dari jiwa sang ayah yang seorang penyair. Kalian tahu? Ayah Mehyar adalah seorang penyair Syiria yang populer, yakni Fayez Khaddour!

Garang dalam peran sebagai Khalid bin Walid --Omar Series-- 2012

Ok, kembali ke bahasan Mehyar dalam serial Omar. Tentunya bukan sebuah peran yang mudah untuk mengambil role sebagai Khalid. Mehyar dalam wawancaranya pun membenarkan ini. Ia berkata bahwa pengalamannya beracting dan bekerja sama dengan sang sutradara --Hatem Ali-- dalam serial ini merupakan sebuah pengalaman yang istimewa dan menyenangkan. Banyak persiapan yang ia lakukan agar bisa memberikan performance terbaik sekaligus berbeda dari actor lain --yang dulunya juga pernah berperan sebagai Khalid--

Friday, November 22, 2013

Gimana Mau Nulis? I am Totally Blocked!

Sharing hasil baca buku Roy Peter Clark Help For Writers!

Writer’s Block, kalian kenal kan?
Ayo bunuh dia! X(

Para penulis, terutama kita yang pemula sudah tentu sangat mengenal the famous problem yang satu ini. Yea, kalian pernah kan mengalami ini : sudah duduk manis di depan laptop dan siap menulis namun tiba-tiba mandek. Membeku.  Satu menit, dua menit, satu jam, dan akhirnya berjam-jam hanya menatap layar dengan tatapan pasrah. What is the prob?

Ide? Banyak!

Alur cerita? Uda mantap di kepala.

Bahkan kalimat-kalimat dan dialog-dialog mantap sudah membayang.

Tapi…

Apa kata pertama untuk memulai? Apa kalimat awal yang pas?

Mandek! Sudah menulis kalimat awal, hapus! Kurang pas, kurang mantap, kurang memuaskan! Klise ah…! Nggak keren! Ngak bagus, apus! Apus! Akhirnya? Nggak nulis sama sekali. Deadline lomba? Berlalu begitu saja, dan ya.. satu kesempatan say good bye.

Kita sering menyebut itu sebagai Writer’s Block. Dan ya.. kemungkinannya ini memang writer’s block. Ciri paling kuat adalah You May Sit Frozen at The Keyboard.

Apa penyebab Writer's Block?

Wednesday, November 13, 2013

2 Options if You Only Write Crap!

Jika yang kau tulis hanya 'sampah', apakah ini waktunya untuk berhenti?
Jika memang kalian menulis 'sampah', mungkin dua opsi ini bisa jadi pilihan. 

Love Letter to Jambi : 4 Reasons Why I'll Love Jambi

Dear Jambi…

Sejak menyadari bahwa kalimat ‘Lamo Tak Jumpo” yang sering kugunakan bercanda dengan temanku ternyata adalah dialek daerahmu, aku merasa suatu saat kita akan terhubung. Lucu bukan? Aneh bukan? Bagaimana hal-hal yang keliatannya kecil bisa merubah dan mempengaruhi perasaan kita. 

Aku pikir ini bukan kebetulan, mungkin ini skenarioNya untuk membuatku sampai padamu. Itulah sebabnya aku memasukkanmu dalam daftar salah satu tempat yang ingin kukunjungi dan tak sabar memberitahumu tentang:

Why I think I will love you? 
These are my reasons:

Kamu nggak Hanya Menyimpan Peninggalan Sejarah Nusantara, tapi juga Salah Satu Warisan Sejarah Dunia! 
Jambi, kamu tu unik, kamu tu antik… Kamu punya kompleks percandian Hindu-Budha terluas di Indonesia, dan bahkan Se-Asia Tenggara. Kamu juga harus tahu kalau Angkor Wat nya Kamboja yang pernah dijadikan setting untuk film Tomb Rider masih kalah luas dari kamu. So chin up! Kamu memang sudah wow dan pantas dicintai.