Sunday, November 3, 2013

Do You Want to be Writer or Better Writer?

First, you need to know that I am not a famous writer, I am still learning how to *hehe. But just because I am not famous it does not mean I do not have anything to be shared with you. 

Ini soal pilihan, saya sudah memilih untuk berbagi, kalau kalian mau kita bisa sama-sama belajar, yuuk :)

Dulu saya mengiyakan saja ketika menemukan bahwa tips terbaik untuk menjadi penulis adalah dengan menulis, menulis dan menulis. Ow,ow! That does not enough actually! We need to do more than just write! 
Beberapa waktu yang lalu saya sempat googling bareng dengan teman, begitu kami menemukan sebuah postingan tentang tips menulis dia mengatakan

 "ah.. gue gak butuh tips! Yang penting kalau mau jadi penulis ya nulis, nulis dan nulis!" 

Oke, memang benar bahwa nggak mungkin kita jadi penulis tanpa nulis, tapi itu nggak lantas membuat kita menutup mata dari beberapa tips yang ada. Contohnya, bagi kalian yang suka nulis fiksi. Tips tentang bagaimana membuat paragraph pembuka yang menarik dalam sebuah cerpen atau novel menjadi salah satu referensi yang perlu kita tahu. Terlepas dari apakah nantinya tips itu kalian setujui dan pakai atau justru kalian tolak. In my case, saya menerima dan mempraktikkannya.


Tips yang saya baca mengatakan bahwa salah satu cara membuat paragraph pembuka cerpen adalah dengan memunculkan ketegangan di awal cerita, bisa dengan mengisyaratkan adanya bahaya atau permasalahan yang akan menjadi point utama dalam cerpen kalian.

Dengan menggunakan tips ini saya pernah membuat sebuah cerpen yang Alhamdulillah di muat di Annida. Berikut penggalan pembuka cerpen-cerpen saya:
Dalam Cerpen Tanah Gulali, saya menulis pembuka cerpen seperti ini:

Di tanah rekah ini kami lahir sebentar saja...
Panas! Aku menguatkan genggaman pada jemari ibu. Kerudung kualihkan menutupi muka, menghindari debu yang memeluk tubuh kami terlalu sering. Matahari pun memberi cinta yang sangat banyak untuk tanah kami. Sedangkan air telah lama memilih menghindar.

Di sini saya mencoba memberikan clue tentang permasalahan yang saya angkat dalam cerpen. Dan pelan-pelan menggiring pembaca pada jalan cerita. Di lain waktu saya juga pernah membuka cerpen dengan sebuah pertanyaan dari tokoh-tokohnya, dengan tujuan menggugah keingintahuan para reader sehingga mereka akan tetap lanjut membaca, seperti pada cerpen Sebuah Tanya di Akhir Dongeng berikut :

"Ma.. kenapa nenek sihir tidak menggunakan sihir untuk membuat pangeran jatuh cinta? Kan jadinya gak musuhan.."
Ibu gadis kecil itu tersenyum sejenak, menatap mata putrinya yang membola penuh binar. Ia memperbaiki selimut, mengecup kening dan berbisik menjawab pertanyaan gadis kecilnya. Malam itu, dongeng ditutup dengan kisah sang putri yang bahagia selamanya. Namun, di kepala gadis kccil itu penuh tanya tentang nenek sihir. Ibunya tak menjawab tuntas. Akhirnya, ia lelap dengan sebuah tanya yang terus tersimpan. Entah kapan sang waktu berkenan memberinya jawab yang purna.

Selanjutnya jangan sombong! Oups.. Kesombongan juga bisa berupa 'kemalasan' lho. Maksudnya? Iya malas itu bisa jadi kesombongan yang menyamar. Dulu saya paling 'nggak banget' baca novel, dan agak ogah-ogahan baca novel dari penulis baru (parah banget kan sombongnya saya, pantes belum bisa jadi famous writer). 

Saya waktu itu hanya mau baca cerpen dan novel absurd yang pake bahasa tingkat dewa, yang jujur kalo saya baca juga ngudengnya agak lamaaaaaaa *hehe. Jadi mindset saya yang masih polos itu bilang kalau bahasanya gak absurd=nggak bagus *ini hasil cuci otak guru sastra saya pas SMA. Sampai akhirnya saya  tersadarkan dengan novel Negeri 5 Menara (ceritanya di sinih-di sinih).

Akhirnya saya sadar bahwa cerpen, novel dan tulisan yang bagus itu bukan hanya yang menggunakan bahasa tingkat dewa, bukan hanya cerpen absurd dan abstrak dengan bahasa sastra yang rupawan. Tapi justru cerita yang mungkin sederhana, dengan kata sederhana, konflik sederhana namun mengena en bisa menyadarkan pembaca.  

Akhirnya pembacah sayapun mulai lebih banyak membaca, lebih mau tahu, nggak sombong lagi dan nggak nolak untuk baca buku tentang tips menulis walaupun ada juga novel yang nggak kelar saya baca karena bosan, dan tips menulis yang akhirnya nggak saya pakai *hehe. Karena yaï¾… sebelum jadi the better writer kita kudunya harus jadi pembaca yang baik dulu.

Ngomong-ngomong tentang membaca, itu adalah hal wajib sebelum kalian menulis. Ya.. riset juga penting. Jangan mentang-mentang kalian nulisnya fiksi terus maunya full ngarang. Contoh deh, waktu menulis Tanah Gulali yang temanya Somalia, saya menghabiskan 3 hari untuk membaca berita tentang Somalia. Kan nggak nyambung banget kalau tokohnya orang Somalia terus saya kasi nama Marimar? Atau Bagas Aji Notonegoro? (apalagi saya kasi nama Ciripa or Bulgoso? *eits itu nama anjing di telenovela kali win :p)

Sedangkan untuk menulis Sebuah Tanya di Akhir Dongeng saya konsultasi dengan Profesor Google tentang pelet. Waktu itu saya sampai takut dikira mau melet tapi itu murni kok sebatas riset untuk cerpen. Sekarang saya bahkan tahu nama salah satu pelet yang kuat yakni pelet Jaran Guyang :)

Nah setelah membenahi dan membuka diri untuk tahu tips menulis lain, barulah selanjutnya kita mulai menulis, menulis dan menulis. Karena ya Practice makes better :) dan kalo kata twittnya mba Ollie :

Never postpone writing, tomorrow will bring another story :) 

Semoga bermanfaat
Selamat menulis! 

3 comments:

  1. makasih teteh atas tipsnya :D
    #likeit
    sy posting kata2 teteh di twitter ya~ :D

    ReplyDelete
  2. nulis nulis nulis,,,,
    *mulai jatuh sya
    *tangkep dong,,,,,

    ReplyDelete

Mendongenglah...