Tuesday, April 23, 2013

Epik: Tanah Gulali (Annida Online 28 Juli 2012)

Saya menulis ini setelah membaca tentang Somalia, alhamdulillah di muat di Annida Online :)

Tanah Gulali



Di tanah rekah ini kami lahir sebentar saja...
***
Panas! Aku menguatkan genggaman pada jemari ibu. Kerudung kualihkan menutupi muka, menghindari debu yang memeluk tubuh kami terlalu sering. Matahari pun memberi cinta yang sangat banyak untuk tanah kami. Sedangkan air telah lama memilih menghindar.
Perjalanan sudah enam hari. Aku lelah dan ingin digendong. Membaui ibu di punggungnya yang nyaman, tapi Nasro adikku sudah lebih dulu meringkuk dalam pelukannya. Ruang untukku hanya jemari yang cukup untuk menggantung sebuah genggaman.  Di belakangku, rombongan yang terdiri dari para ayah, ibu-ibu, orang lanjut usia hingga anak-anak berjalan beriringan. Rombongan memilih berjalan kaki daripada memakai angkutan, karena biayanya bisa jadi semakin mahal. Tak ada yang bersedia memberi tumpangan gratis karena keadaan dirasa tak cukup untuk memikirkan orang lain, dan entah mengapa kami sama-sama memaklumi.
Gemerisik dari kantong hitam besar
yang dibawa ibu menjadi satu-satunya lawan dari suara perutku yang lapar.  Barang bawaan kami hanya sebuah jerigen yang berisi sedikit air keruh dan  potongan kecil roti kering. Tapi aku tahu,  di balik jilbabnya yang besar, ibu menyimpan sedikit uang yang entah kapan akan digunakan.
Kualihkan pandangan menatap wajah ibu yang hitam dan  berpeluh. Aku harus tetap kuat agar ibu tidak semakin sedih. Setelah kematian ayah yang disusul adik keduaku Migha, ibu hampir tak pernah lagi tersenyum. Duka berdatangan mengunjungi kami, ditambah lagi dengan lapar yang melilit. Ternak kami yang dulunya berjumlah puluhan mati satu persatu sedangkan lapar telah menyerang seperti wabah dari satu daerah ke daerah lain. Ketika terdengar Mogadishu pun mulai lumpuh dan tak lagi menjanjikan harap, ibu mengikuti alur rombongan pengungsi yang memilih menuju perbatasan Kenya.
Malam sebelum keberangkatan, ratusan keluarga berkumpul dan akhirnya memutuskan memulai perjalanan. Ibu mengumpulkan apapun yang bisa dibawa. Namun pada akhirnya  bekal kami hanya air dan sepotong roti kering yang remahnya tak pernah tersisa. Ada sedikit binar di mata ibu yang kerap kutangkap pada kedipnya ketika memandangku. Untuk menuai harap inilah kami memulai perjalanan, menahan lapar dan melawan hawa panas yang disertai debu.
Sebuah teriakan menghentikan langkah kami. Aku hanya bisa menatap dibalik kerudungku yang menutupi separuh muka. Nenek Duba diam dalam isakan. Aden Abdullah, cucunya yang baru empat tahun kaku dalam gendongannya.  Kini satu anggota rombongan kembali pergi. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menunaikan hak terakhir mereka. Sebuah doa dalam diam. Rombongan terus berjalan. Kami tidak bisa berhenti. Nenek Duba seperti halnya kami telah memaklumi dalam hati bahwa peduli hanya untuk kami sendiri, setidaknya untuk sekarang. Ibu menarik tanganku, melanjutkan langkah.
Kian hari aku semakin mengerti, setiap langkah kami dalam perjalanan ini  adalah perjuangan dan tiap harinya adalah perang. Namun seperti yang lalu-lalu, yang telah kami pahami diam-diam bahwa dalam perang selalu ada yang gugur.  
Di belakang, nenek Duba mungkin telah bersiap mengubur cucunya. Sendirian. Ia harus cepat agar tak jauh tertinggal rombongan, namun juga harus menggali cukup dalam di tanah rekah ini, untuk menjaga agar hyena yang kelaparan tak mengendus jenazah cucunya.
Sedangkan aku sibuk menghitung jejak. Kakiku yang telanjang kembali menjejaki tanah ini. Tanah yang makin rekah, dengan tubuh Aden kaku di dalamnya.
***
 Malam merayapi tanah ini perlahan. Ibu membagi pahanya sebagai bantal untukku dan Nasro. Aku tidak bisa tidur karena Nasro tak mau berhenti menangis. Sama seperti malam-malam sebelumnya, ibu kembali membawakan syair dan dongeng agar kami lupa pada haus dan lapar. Tanah kami mengenal tradisi mendongeng sejak lama. Banyak kisah yang terangkum dalam nada-nada yang diwariskan turun temurun, pada ibu dan akhirnya sampai padaku.
Di sekitarku beberapa lelaki nampak mondar-mandir, membunyikan kaleng bekas agar kawanan anjing liar dan binatang buas lainnya tak mendekat. Tapi resikonya sama-sama mengancam hidup kami. Telah banyak beredar cerita tentang perampok di malam hari, itulah sebab rombongan memilih berjalan di siang hari. 
Air mataku mengalir pelan, kusembunyikan dalam dengkur palsu yang sengaja kubuat. Untuk menenangkan gundah ibu, juga mengurangi lukanya. Aku tahu, kepergian Migha, masih berbekas dalam ingatannya. Kucoba lebih keras mengundang lelap. Mungkin malam ini aku bisa memimpikan sepiring anjera dengan segelas susu segar. Dalam mimpi bukankah kami boleh memilih untuk merasai kenyang?  Ya... karena tidur menjanjikan lupa.
***
Aku terbangun karena suara teriakan. Ibu mendekapku dan Nasro dengan erat. Dalam remang kulihat lebih dari dua puluh laki-laki berdiri, hampir semuanya memegang senjata.
Mereka mulai berteriak dan  bergerak dengan cepat mendekati kami. Mereka menyuruh laki-laki berbaris terpisah dari perempuan. Kulihat mereka memukul kakek Muhammad hingga terjerembab dan juga mendorong nenek Fatheya yang mencoba melindungi suaminya. Anak-anak mulai menangis, Nasro pun terbangun dan langsung bergabung dengan suara tangis lainnya. Ketika keadaan makin ribut, seorang laki-laki melepaskan tembakan dan membuat semuanya diam. Hanya isak halus yang terdengar. Ibu mencoba menenangkan Nasro dalam pelukannya.
Beberapa lelaki dari kelompok itu menyebar. Aku berlindung dibalik peluk ibu ketika dengan kasar laki-laki itu meminta uang.
Tak ada uang”, jawab ibu setengah berteriak. Laki-laki itu menjawab dengan sebuah tamparan. Nasro kembali menangis, dan aku makin menguatkan genggaman. Mendengar keributan kecil, dua lelaki dari kelompok perampok itu ikut mendekat. Menarik ibu dan memisahkan Nasro dan aku darinya. Sekali tarik, tubuh kecilku langsung terlepas dari tangan ibu. Mereka berbicara kasar dan mencengkram pundak ibu. Dalam remang ibu menoleh padaku sejenak. Kemudian tangannya bergerak mengambil sesuatu dibalik juntai kerudung kumalnya.
Dengan pelan-pelan ibu memberikan sebuah bungkusan kecil yang langsung diambil kasar oleh lelaki kurus berkumis. Ia menghitung-hitung dan mengangguk-angguk. Kemudian  mendekat dan melemparkan bungkusan kepada temannya yang mencengkram lenganku.
Berapa?” Tanya temannya.
Seratus ribu shiling”, jawab laki-laki kurus berkumis lalu menyeretku dan Nasro. Ia mendorongku kepada ibu yang langsung mendekapku sambil menenangkan Nasro dalam gendongannya. Aku menatap marah pada kelompok lelaki kasar itu. Dalam remang, tangisku pecah tanpa suara. Selain air keruh yang terus berkurang dalam jerigen dan remah roti kering, seratus ribu shiling adalah harta ibu paling berharga. Itulah pinjaman terakhir yang bisa di dapatkan ibu sebelum  memutuskan meninggalkan rumah. Aku muak dengan mereka yang berperang. Aku benci senjata yang pernah melubangi rumah kami dan merenggut hidup ayah. Mereka bermunculan dan merasa paling benar.  Jika mereka adalah pembela, seharusnya mereka ada disaat Migha meregang nyawa karena lapar dan malaria. Seharusnya mereka ada ketika kami mulai berebut air keruh untuk menghilangkan haus. Ya.. seharusnya mereka melakukan yang seharusnya.
Malam ini terasa panjang, aku menatap wajah ibu yang muram. Malam bahkan tak mampu memberi kami lelap, sedangkan esok matahari telah menagih lanjutan perjalanan kami. Hanya doa yang terus kuulang dalam hati. Sama, seperti semua hati yang merindui rasa kenyang.
***
Hari kesebelas, debu masih setia mengelilingi tubuh kami. Di sisi lain  haus mencekik dengan lebih ganas. Air keruh di jerigen ibu telah habis. Remah roti pun tak bersisa. Lapar telah purna menyerang tanpa ada perisai yang tersisa. Harap hanya akan tunai apabila kami menyeret langkah lebih cepat menuju Dadaab.
Ibu, aku haus...”, kataku sambil menatap ibu. Aku tak bisa menahan diri lagi. Setidaknya sedikit keluh meringankan hati.
Sabarlah Sarah, Dadaab tinggal sehari lagi”, jawab ibu tanpa menoleh. Aku kembali menyeret langkahku. Sehari. Dan semuanya akan baik-baik saja. Kuamini gumamku dalam hati. Semoga tak ada lagi yang pergi dari rombongan.
Di depanku, seorang laki-laki dengan jerigen kuning berdebu berjalan pelan sambil menuntun istrinya, seorang wanita kurus yang menahan perih di perutnya. Tiga hari yang lalu ia berteriak kesakitan dan mengisak pilu. Janinnya gugur, dan kami memilih bungkam karena tak punya kata untuk menghibur. Sebuah tatap cukup mewakili kepedulian kami. Laki-laki itu, sama seperti kami tak punya pilihan lain kecuali meneruskan langkah dan secepat mungkin sampai di kamp pengungsi. Di sana mungkin ia dan juga kami akan segera mendapat pertolongan.
Dalam diam aku menghitung, jumlah gundukan tanah yang menjadi jejak rombongan kami.
***
Ibu menggenggam tangan kecilku lebih erat. Mungkin ia merasai payah yang tak lagi mampu kupendam.
 “Sebentar lagi”, bisiknya. Aku tersenyum kecil tapi kakiku benar-benar lemas. Aku tak kuat dan tak mampu lagi berpura-pura kuat. Tenggorokanku kering dan perutku makin dililit lapar.
 “Sarah, sebentar  lagi kita sampai”, lanjut ibu mengeraskan suaranya. Ia berhenti sejenak, memindahkan Nasro dari punggungnya ke dalam gendongan di dadanya. Ibu berjongkok membiarkanku menaiki punggungnya. Kurasakan langkah ibu semakin cepat. Mungkin ini sisa tenaganya. Dadaab sudah di depan mata, dan ibu kurasa tak mau menunda untuk menuai harapnya.
Alhamdulillah, Sarah, kita sampai..” kata ibu. Ia tak dapat menyembunyikan haru dalam getar suaranya. Dari balik punggung, aku pelan-pelan mengintip, Dadaab dipenuhi ribuan orang. Sebagian mereka berlindung di balik tenda-tenda pengungsian.  Rombongan di belakang kami telah bersegera menyebar mencari harap.  Ibu  mendekati sebuah tenda berwarna coklat kemerahan, di dalamnya telah penuh oleh para ibu dan anak-anak.  Di sekitar tenda terlihat jejak masak para ibu, panci dan wajan kotor yang tak meninggalkan sedikitpun remah makanan. Ibu membiarkanku berbaring di pahanya yang kurus. Aku melirik ke dalam tenda, kulihat enam bocah duduk mengelilingi ibu mereka, yang paling kecil nampak menggapai-gapai susu ibunya yang layu. Dengan kedua tangannya yang kurus ibu muda itu mencoba memberi hangat pada enam anaknya. Namun ia tetap tak mampu menenangkan satu tangis anak lelakinya yang kelaparan.
“Ibu...” keluhku. Aku merasa benar-benar tak mampu bahkan untuk meminta air. Kukira sampai di sini kami akan langsung mendapat makanan. Ternyata kami harus menunggu. Perjalanan kami selama dua minggu harus ditambah dengan kesabaran. Namun apakah maut mau menunda untuk tak mendekat? Perhatianku teralih ketika terdengar suara ribut di sekitar tenda, beberapa orang bergegas berkerumun. Nampak beberapa lelaki asing dengan rompi berwarna coklat menyebar di sekitar tenda. Relawankah?
Beberapa dari mereka mendekati tenda, seorang lelaki tersenyum ramah padaku, memberi ibu sebuah bungkusan yang berisi kain kotak-kotak berwarna biru tua.
Sarung... sa-rung...”, kata laki-laki sambil menunjuk kain kotak-kotak itu. Ibu mengikuti perkataannya dengan pelan, sambil menggumamkan nama kain itu ibu menggelarnya dan menyelimutiku. Laki-laki itu mengambil sesuatu di saku celananya, mengeluarkan genggaman yang penuh dengan makanan kecil warna-warni. Ibu membukakan satu, perlahan ia memasukkannya ke dalam mulutku. 
Manis...  Tapi aku sudah tak kuat untuk merasai kembali gula-gula ini. Aku lelah dan lapar.
Sarah!!” Kini ibu benar-benar berteriak. Kulihat ia menangis, ia segera memangkuku dalam peluknya. Ibu mengeluarkan gula-gula itu dari mulutku. Dengan sigap lelaki asing itu menyodorkan sebotol minuman.  Air memasuki mulutku, tapi aku sama sekali tak punya kekuatan untuk menelan. Air hanya menggenang dalam mulutku lalu mengalir keluar dari sudutnya. Isak ibu kian keras seiring dekapannya yang makin hangat. Lelaki itu berteriak memanggil rekannya. Dua orang tergopoh mendekatiku, memegang pergelangan tanganku. Mereka saling bicara dalam bahasa yang tak kumengerti, namun rasa panik terselip dalam suara mereka. Semakin lama entah mengapa semua nampak samar. Bahkan teriakan dan tangis ibu hanya menjelma bisik yang kian lama kian senyap. Ajaibnya, aku tak lagi merasa lapar atau haus.
***
Aku merasa sedang terbang, bebas..  dengan perut kenyang untuk pertama kalinya. Dalam pandanganku, tanah ini berubah hijau dengan gulali tumbuh seperti bunga di sepanjang jalan. Kulihat Aden dan beberapa anak lain berlari kecil penuh tawa. Aku menoleh dan melihat Migha yang berteriak melambai memanggilku. Kedua tangannya penuh dengan gulali besar berwarna cerah. Ia tak lagi kurus dan menangis. Dengan jelas aku bisa merasakan senyum di bibirku. Membalas lambaian Migha, kemudian ikut berlarian di tanah ini. Tanah  yang tak lagi rekah dan tak pernah sunyi oleh tawa..
*End*

Tanah Kampung, 15 Juni 2012
Dedicated: mereka yang merindui rasa kenyang

Catatan:
Anjera:  Penganan  yang terbuat dari tepung terigu.
Epik ini dimuat di sini

No comments:

Post a Comment

Mendongenglah...