Tuesday, April 23, 2013

Epik Keduaku : Lantunan Dalam Desau (Dimuat di Annida Online 18 September 2012)



Akulah angin, melembut namun tak mau ditundukkan, kecuali oleh satu. Atas inginNya aku mewujud dalam rasa. Bahkan  amuk lautan  turut dalam amarahku.

I
Aku menggairahkan awan yang akhirnya melahirkan hujan. Aku suka ketika butirannya jatuh dengan anggun di permukaan sungai Naf. Bergabung kembali dalam kumpulan. Aku meliuk di atas sungai, menyaksikan hujan lain dari mata orang-orang Rohingya. Mereka nampak letih dan terluka. Berdekapan dalam perahu mereka yang mengapung di atas sungai. Perahu itu terlihat sesak dengan puluhan orang di dalamnya. Diantara isak yang terdengar, samar-samar kudengar lafaz doa dari perempuan berkerudung cokelat tua. Sembari menghapus tangis, ia terus taat dalam alur doa. Aku mengusap lembut wajahnya, mencoba memberi tenang. Semua orang dalam perahu ini sama. Terusir dan terluka.
            Sehari yang lalu, ketika ia dan para pengungsi lain tengah
larut dalam pikir masing-masing. Tiba-tiba desing peluru menyerang perahu mereka. Sebuah helikopter melintas dan memuntahkan peluru. Jerit dan kepanikan langsung tumpah. Mereka hanya bisa merunduk dan berdoa agar peluru tak mengenai tubuh mereka. Wanita itupun sama, suaminya mencoba melindungi ia dan anaknya dalam dekapan. Wanita itu hanya menangis dan memejamkan mata kuat-kuat. Bersiap dengan hal paling buruk. Ia baru membuka mata ketika keadaan sudah tenang. Ia, anak dan suaminya selamat kendati dua anak kecil lain meninggal dalam perahu mereka. Rombongan perahu pun tak lagi utuh, tiga perahu terpisah dari rombongan.   
Seminggu sebelum itu, kampungnya yang berjarak 10 mil dari Sittwe terbakar. Ia berteriak dalam kepanikan, suaranya melengking memanggil nama suaminya, berbaur dengan desing peluru dan suara perempuan lain yang juga panik mencari anak dan keluarganya.  Ia hanya bisa berlari menyelamatkan diri bersama anak dalam gendongannya. Menangis sedu melihat kampungnya terbakar. Namun Tuhan masih memberinya lega ketika ia melihat suaminya selamat. Laki-laki itu juga menatapnya haru, mereka saling mencemaskan dalam kepanikan. Tak hentinya ia menangis dan membenamkan wajah dalam dekap suaminya. Ia sempat takut suaminya ditangkap dan dibawa pergi. Bahkan ia meredam ketakutan terdalamnya dengan zikir ketika membayangkan suaminya terbunuh.  Sejak konflik kian panas, ia dan muslim lain kian sulit mencari nyaman.
Kini mereka masih terkatung di atas sungai.  Ia dan keluarganya mengikuti rombongan pengungsi menuju Bangladesh. Begitu sampai perbatasan mereka dihalau petugas agar kembali. Suaminya mencoba bersuara dengan mengatakan bahwa dalam perahu banyak wanita, anak kecil juga orang-orang yang terluka. Tapi petugas tetap pada perintah agar mereka dihalau kembali ke Myanmar.  Tak ada yang bisa dilakukan, mereka kembali mengapung di atas sungai Naf, memilih diam dalam doa panjang. Dua wanita lain duduk melipat kakinya. Sendu tergambar di wajah mereka, kedua wanita itu kehilangan anak mereka akibat serangan yang lalu. Tak ada pilihan lain, dengan tangis berderai mereka menitipkan jasad anak-anak mereka pada aliran sungai Naf.
Aku masih bersama mereka, sesekali menyelusup lembut. Memberi nyaman diantara desau yang kubisikkan. Wanita itu memegang erat lengan suaminya sembari mendekap anaknya. Aku takjub saat ia masih setia dalam lantun syukur, kendati luka belum pergi dari hatinya. Dan dari sepasang mata itu, ketulusan mengalir bersama butiran bening yang membola.
II
            Lantun syukur kembali bersambut, terdengar dari sebuah kemah di Daadab. Seorang ibu muda, baru saja sampai di pengungsian setelah menempuh perjalanan selama seminggu. Ia bergegas mengikuti beberapa anggota rombongan mencari tempat untuk mendirikan tenda darurat. Ia membantu dengan mengumpulkan kayu-kayu kering disekitar kamp pengungsi, seorang laki-laki berjinjit mengikat kayu-kayu itu dengan potongan-potongan kain kecil. Setelah kerangka tenda jadi, mereka menutupinya dengan kain panjang dan terpal untuk berlindung dari terik matahari.
“Alhamdulillah”, gumam wanita itu disela nafasnya yang berat. Ia dan beberapa wanita lain memasuki tenda beserta anak-anak mereka yang letih. Ia membaringkan Ibrahim putranya yang berumur 4 tahun di atas pangkuan. Tangis meleleh perlahan dari matanya yang sayu. Ia hanya punya setengah botol air untuk bertahan sembari menunggu jatah bantuan makanan. Ia sempat mendengar para relawan telah sampai di Garissa. Setelah itu baru tiba di Daadab. Tak hentinya ia berdoa agar putranya bertahan, hingga obat-obatan atau tepung dan jagung berhasil ia dapatkan. Ia akan membuat sepiring bubur untuk Ibrahim. Putranya  hanya perlu bertahan. Doa itulah yang ia ulang-ulang semenjak mengambil langkah pertama dalam perjalanan. Ia memperbanyak syukur sebagaimana pesan suaminya sebelum meregang nyawa karena tertembak peluru perampok.
“Amina, yang kita punya cuma Allah. Berjanjilah.. Seperti apapun laparnya kita. Tetaplah bersyukur. Jika kita mengabaikan satu-satunya harap. Maka kita tak akan punya apa-apa lagi”.
Wanita itu terkadang menangis dalam tidur yang sekejap. Suaminya mewariskan lantunan padanya. Lantunan yang ia janjikan tak akan pernah terlupa hingga nafasnya terhenti. Ia berharap agar Allah menjawab dengan mengabulkan harapnya yang tunggal. Ibrahim bertahan, itu saja...
 Aku meliuk lembut dalam desiran bersama debu gurun di sekitar tenda. Mencuri dengar doa-doa, lalu berhembus sambil mengamininya. Tempat ini penuh dengan isak, dan rintih lapar. Namun tanah ini juga penuh doa. Aku melihat doa-doa terbang dengan kepak lembut dari tenda-tenda. Warna mereka sama, dan menuju tempat yang sama. Aku kembali takjub akan syukur yang masih ramai terdengar kendati suara perut yang lapar turut membuat riuh. Syukur dari seorang anak karena ayahnya yang tua masih bertahan hingga hari ini. Ada juga kelegaan dari seorang ayah yang anaknya masih bisa mendapat seteguk air. Tempat ini mungkin mendung namun mereka masih lega karena Tuhan tak mengirim badai.
Kusibak lembut sebuah tenda berwarna kelabu. Seorang ibu muda  yang lain nampak menahan tangis memandang anak yang terbaring di pangkuannya. Ia menciumi wajah anaknya, tetesan tangis mengalir  di pipinya . Ada senyum di wajah sendu itu. Kelegaan sekaligus luka. Kehilangan sekaligus kerelaan. Ia telah berdoa selama hampir dua minggu agar putri keduanya tetap bernafas hingga bantuan tiba. Namun mungkin Allah telah menyiapkan hidangan yang lebih lezat untuk anaknya. Putrinya  yang kurus, dengan tulang menonjol dan kepala membesar telah berhenti menangis. Tak ada lagi kerjap dari mata kanak-kanaknya yang kerap memandang sang ibu.
“Tak apa..”, gumamnya. “Hamba ikhlas ya Rabb..”. dan dari matanya, kembali aku melihat tetes bening membola. Mengisyaratkan tulus sebuah hati.   
III
  Desingan peluru tak kalah membuatku bising di sekitar Rafah, terus hingga Gaza. Tangis dan jerit hampir tiap hari beradu dengan peluru. Namun doa dan puji seperti kubah yang menaungi tanah ini.
Aku meliuk ke utara Gaza, mendekati Beit Hanun. Beberapa waktu lalu. Aku menjadi saksi mortir-mortir yang mengarah dan menghancurkan rumah-rumah. Jerit dan tangis pecah, anak-anak yang tengah terlelap terbangun dalam dekap ibu mereka yang panik mencari selamat. Aku masih ingat seorang wanita yang menjadi korban, Nasmah Du’a. Suara mortir dari tank-tank di luar membangunkannya.  Dengan tangis di mata indahnya ia berlari keluar menggendong putrinya Raisyah. Saat hampir membuka pintu belakang, sebuah mortir menembus atap rumahnya. Pecahan mortir menyebar menusuk paru-parunya, mengenai lengan kanan dan wajah cantiknya. Darah terciprat. Nasmah ambruk ke lantai dengan Raisyah bersimbah darah dalam dekapannya.
Setelah serangan mereda. Suaminya yang terluka hanya bisa memeluk jasadnya. Laki-laki itu tertunduk dalam diam. Menahan perasaannya yang luka, pun sakit dari tubuhnya. Aku melingkupinya, mengelus rambut dan jenggotnya. Dan aku semakin melembut ketika dari bibirnya yang kering ia dengan lemah mengucap doa. Laki-laki itu tak menghujat Tuhannya. Berkali-kali ia mengucap ta’awudz yang diselingi istighfar untuk menenangkan amarah.  Dan ia mengucapkan kerelaan, saat mengelus wajah istrinya yang penuh darah.
Aku mendesir di sekitarnya. Diam dalam ketakjuban. Walaupun kali ini dari mata seorang adam, ketulusan masih menjelma dalam tangis.
IV
Aku suka menari di atas sungai. Sekedar meliukkan diri dan membuat gelombang-gelombang kecil di permukaannya. Jika melihat dari kejauhan, air sungai ini akan memberikan pemandangan warna hijau yang indah. Drina.. sungai cantik yang mengalir sepanjang perbatasan Serbia, Bosnia Herzegovina.
Aku terus meliuk, bergerak dalam desau menuju Potocari. Kali ini tidak ada desing peluru, atau suara lapar yang terlalu ramai. Namun, tangis dan isak tak kalah pilu merebak dari keramaian. Ribuan orang memenuhi tempat ini.  Mereka berkerumun di depan ratusan peti mati berwarna hijau tua. Mencari peti mati yang menyimpan jasad suami, putra ataupun saudara mereka. Penguburan massal korban Srebrenica bertahun lalu akhirnya akan dilakukan dengan lebih layak. Setelah lama jasad-jasad mereka tumpang tindih dalam satu lubang.
Seorang wanita berjongkok di depan  peti bernomor 145. Ia menyeka air mata dengan sapu tangan putih. Namun tangisnya tak juga surut. Telah 17 tahun suaminya menghilang. Selama penantiannya ia telah menguatkan diri, namun pertahanannya luruh saat peti mati itu berada di depannya. Mau tak mau ia membayangkan bagaimana suaminya terbunuh. Mungkinkah ia berteriak kesakitan ketika tertembak? Ataukah ia disiksa telebih dahulu hingga mati kehabisan darah. Lalu mayatnya terbuang, dilemparkan ke dalam lubang besar. Bergabung dengan ribuan mayat lain?
Aku di sana saat itu, ketika Srebrenica dipenuhi bau kematian.  Bertahun lalu saat ia dipaksa terpisah dari suaminya. Jusuf.. laki-laki itu tak berdaya ketika dengan paksa ia dikumpulkan bersama laki-laki Bosnia lainnya. Dibawa menggunakan truk menuju sebuah gudang. Mereka ditelanjangi, diikat dan ditembaki seperti melakukan sebuah permainan. Sayangnya, peluru yang menembus kulit mereka adalah peluru panas yang asli. Laki-laki  itu menutup mata kuat-kuat. Berzikir mengucap asma Allah hingga nafasnya terhenti.    
Beberapa langkah dari wanita itu, seorang lelaki menatap sendu pada peti di depannya. Ia merasa kakinya lemas. Berkali-kali ia menghela nafas berat. Mencoba menahan air mata. Di dalam peti itu, terbaring mayat saudara tertuanya. Kakak yang selalu tersenyum padanya, menjaga dan menyayanginya. Pelan-pelan ia berjongkok, tangannya mengusap peti hijau tua di depannya. Dan seperti wanita tadi, ia pun menyerah dalam tangis. Membiarkan lukanya memuncak dan luruh bersama ikhlas.
Perhatian laki-laki itu teralihkan karena tangis seorang wanita tua yang berjarak tiga peti dari tempatnya. Wanita itu memeluk ujung peti, anggota keluarganya yang lain mencoba menenangkan dengan mendekap tubuh ringkihnya. Wanita tua itu terus menangis, sedunya terpatah-patah dengan nafas tak beraturan. Tak ada satupun anggota keluarganya yang memintanya berhenti menangis.
“Ibu kami sudah menahan diri selama 17 tahun. Kami tak bisa melarangnya menangis. Itu satu-satunya cara agar ibu menemukan kerelaan dalam hatinya”. Kata seorang wanita berjilbab biru. Laki-laki itu mengangguk membenarkan.
Dalam isaknya yang diam, ia mungkin membayangkan ibunya yang tua di rumah. Satu-satunya keluarga yang ia miliki. Satu-satunya yang tersisa dari tragedi di Srebrenica. Ibu yang hatinya penuh duka. Telah bertahun-tahun sejak tragedi pembantaian itu, sang ibu meyakini bahwa putra sulungnya hanya pergi sebentar, akan kembali suatu saat nanti. Dan sebagai anak, ia hanya mengiyakan imaji sang ibu. Ia kerap terenyuh ketika sang ibu membuat cevapi porsi besar. Menghidangkannya di meja makan lalu berceloteh betapa sang kakak sangat menyukainya.
“Kakakmu pasti lapar saat pulang nanti, dia selalu suka cevapi dan yoghurt. Ibu bahkan curiga dia tak mengunyah ketika menghabiskan makanannya dengan cepat”.
Saat sang ibu sibuk dengan imajinya, laki-laki itu akan membalikkan wajah dan menunduk diam. Betapa luka kehilangan sangat dalam. Terlebih jika itu sebuah pembunuhan.
Ia tak mampu memberitahu ibunya, bahwa putra yang ia rindukan dan yakini keselamatannya telah menjadi belulang dengan jasad tak utuh. Kaku dalam sebuah peti. Ia biarkan dirinya larut dalam tangis. Mencari ikhlas  dalam ruang-ruang hatinya. Dalam lirih suara, aku mendengar ia menyebut nama Tuhan. Aku mendesir senang, kembali menyaksikan kerelaan dari mata kaum adam.
V
Aku diciptakan menjadi bagian dari bumi. Di alam, kami memiliki lantunan zikir tersendiri. Terkadang aku menyamakan asma pujian dengan aliran sungai. Bertanding zikir dengan gemericiknya. Maka aku akan mengajak daun-daun menciptakan gemerisik lebih riuh. Kami berlomba makin seru dengan cicit burung-burung.
Kuberitahukan sesuatu...Aku pernah membandingkan derita para hamba dari berbagai  penjuru dan zaman. Ada yang ringan, ada pula yang dukanya begitu berat. Diantara mereka ada pula yang suka merutuki keadaan, mengeluarkan kecewa pada Tuhan.
Di alam kami tak pernah berniat menghujat, air yang selalu mengalir ke tempat rendah pun tak pernah mengeluh. Aku telah banyak melihat luka-luka, amarah, juga derita dari manusia dari berbagai belahan bumi. Memang ada yang menghujat, ada yang jahat, namun selalu ada yang bersyukur walaupun tangis berderai dari mata mereka. Dan ini... bukan imaji.
*End*
Tanah Lombok,  Penghujung Ramadhan 2012
Catatan:
Cevapi : kebab berbahan daging sapi yang diasap dan disajikan bersama dengan roti bakar berbentuk bundar yang diramu dengan aneka rempah nikmat.

Sumber: http://annida-online.com/artikel-5998-lantunan-dalam-desau.html

No comments:

Post a Comment

Mendongenglah...