Wednesday, August 1, 2012

Luka sang Pemimpi

Bismillah..
Tulisan ini bukan tentang novel Andrea Hirata.
Walaupun sy dan Andrea Hirata punya beberapa kesamaan. Sama-sama Indonesia! 
Tulisan ini tentang orang-orang yang punya mimpi dan telah berani menyebut dirinya sebagai pemimpi. keputusan menjadi seorang dreamer sy rasa bukan keputusan mudah. karena sebagaimana khasnya sebuah keputusan ia punya konsekuensi tersendiri. Begitupun ketika memiliki mimpi, kita tak akan  hanya mengingininya tapi juga perlu menghormati, menjaga dan mengusahakan wujudnya dengan jalan terbaik dan terhormat. No cheat yak! 

Hati-hati juga dengan calo-calo mimpi. contoh horor da ya.. seorang artis Korea yang kemarenan bunuh diri. isunya se dia sudah nggak tahan dijadikan pelayan s*x oleh menejernya. ceritanya, demi mengangkat popularitas si artis agar mendapat kontrak CF ataupun drama si artis mesti rela memenuhi "callingan" beberapa org berpengaruh di industri hiburan Korea. Nah lho.. katanya lebih dari 100 "pelayanan calling" yang akhirnya ngebuat si artis depresi lalu bunuh diri. 

Ini  yang saya sebut sebagai intaian calo mimpi. Mereka mencari orang-orang dengan mimpi. dan mengambil keuntungan dari mereka.
Sedihnya ya ke si artis. Mempercayakan mimpi pada orang yang gak bener. 

Contoh Lain:
Mimpi menjadi penulis. Saya sering membaca berita plagiat pada sebuah komunitas tentang kepenulisan di Facebook. bagaimana sebuah cerpen dicontek dan bisa-bisanya dimuat di sebuah koran harian. Pujian se dapet karena memang cerpennya bagus. Tapi setelah itu ada yang jeli melihat bahwa cerpennya pernah dimuat di media lain, dengan penulis berbeda. Jadilah coment-coment pujian berubah menjadi celaan. 
Saya sempat kasian juga (bukan sama orang yang plagiat yak tapi sama mimpinya!). Mungkin dia sudah di ujung keputusasaan sehingga melakukan copy-paste. Tragis. Dari seorang dreamer malah jadi plagiator
Di lain tempat mungkin mimpi-mimpinya sedang menangis karena dilupakan, atau menghujat karena ia terwujud dengan jalur murtad, tapi selain luka si mimpi. Mungkin di relung terdalam, yang empunya mimpi juga merasai sakit.
Sepertinya luka terdalam seorang pemimpi bukan ketika mimpinya tak terwujud. Tapi ketika dia sendirilah yang menghianati mimpinya. baik itu dengan cara menyerah dalam berusaha, ataupun menempuh jalan "kiri" untuk mencapainya.

Kalau memang uda punya mimpi ya terus aja.. Seperti katanya A. Fuadi di novel Lima Menaranya. Man jadda wa jadda.. yang sungguh-sungguh akan berhasil.. Insha Allah... (^.^)    

No comments:

Post a Comment

Mendongenglah...