Wednesday, April 14, 2010

Role Playing

Dolo ini catatan lama. didapat dari berbagai sumber juga. mungkin ada yang nyari. monggo...



STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA LISAN
“Bermain Peran”
Latar Belakang

“ Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berfikir anak”.

Kalimat di atas merupakan sebuah dasar bagi para pendidik untuk berusaha menciptakan metoda dan strategi pembelajaran yang menyenangkan. Ada beberapa strategi pembelajaran yang selama ini diibaratkan sebuah bank . peserta didik diberikan pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat dan bermanfaat bagi masa depannya. Peserta didik lantas diperlakukan sebagai bejana kosong yang akan diisi sebagai sarana tabungan. Guru adalah subjek aktif, sedangkan peserta didik adalah subjek pasif yang penurut dan diperlakukan sama. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dengan guru memberikan informasi yang harus diserap oleh peserta didik yang wajib diingat dan dihapalkan. Berikut daftar antagonis pendidikan gaya konvensional yang termasuk faktor pencipta rasa jenuh.
1. Guru mengajar sedangkan murid belajar
2. Guru tahu segalanya dan murid tidak tahu apa-apa
3. Guru berfikir dan murid hanya difikirkan
4. Guru bicara sedangkan murid mendengarkan
5. Guru mengatur dan murid diatur
6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, sedangkan murid mengikuti
7. Guru bertindak dan murid hanya membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya
8. Guru memilih apa yang diajarkan dan murid menyesuaikan diri
9. Guru mengacaukan wewenang wawasan yang dimilikinya dengan wewenang profesionalisme dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid
Oleh karena guru menjadi pusat segalanya, hal yang lumrah jika murid yang mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai “manekin” manusia ideal yang harus ditiru dan diteladani dalam segala hal. Implikasinya, kelak murid-murid tersebut berubah menjadi duplikasi guru mereka dahulu. Pada saat itu, akan lahir generasi baru yang penindas. Jadi, penindasan bisa jadi diawali dari dunia pendidikan. Inilah labirin pendidikan yang tak akan putus tanpa adanya pencetus inovasi.
Posisi bangsa Indonesia berada dalam dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara non resmi, santai dan bebas. Yang dipentingkan dalam pergaulan dan perhubungan antarwarga adalah makna yang disampaikan. Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks bahasa nasionala dapat dengan bebas menggunakan ujarannya baik lisan maupun tulis.
Merujuk pada salah satu prinsip pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, yakni belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, sejatinya pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kualitas komunikasi lisan dalam berbahasa Indonesia. Dan tidak dapat dipungkiri dalam rangka mempercepat proses peningkatan kualitas dibutuhkan strategi pembelajaran yang efektif. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran termasuk di dalamnya adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses.
Pada kesempatan ini kami menyajikan salah satu pembelajaran bahasa Indonesia lisan dengan cara “bermain peran”. Strategi ini diharapakan dapat efek ganda dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yakni memotivasi sekaligus melatih keterampilan untuk berkomunikasi secara lisan. Guru yang kreatif senantiasa mencari inovasi baru dalam pemecahan masalah pembelajaran. Tidak terpaku pada cara-cara konvensional yang monoton. Bermain peran merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh.
Tujuan
Strategi pembelajaran Bahasa Indonesia lisan dengan cara bermain peran diharapkan dapat lebih mengefektifkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga kualitas pembelajaran semakin meningkat.
A. Pengertian
Sebagai makhluk sosial dan individual, manusia membutuhkan interaksi dimana mereka dapat memberikan pengaruh dan dipengaruhi. Dilihat secara spesifik, sebagai individu manusia memiliki berbagai keunikan rasa. Senang, sedih, marah dan beragam aneka rasa yang kemudian dimunculkan sebagi potensi masing-masing pribadi.
Peran sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan atau tindakan. Ini merupakan suatu rangkaian keunikan dari individu yang satu ke individu lainnya. Peran yang dimainkan oleh seseorang memiliki pengaruh kepada orang lain dan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.
Pada dasrnya strategi ini memiliki potensi keberhasilan yang tinggi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa usia anak SD adalah tahapan dimana mereka sangat senang bermain peran (alias main pura-puraan/jadi-jadian).
Ada dua jenis bermain peran, yaitu mikro dan makro. Bermain peran mikro, anak-anak belajar menjadi sutradara, memainkan boneka, dan mainan berukuran kecil seperti rumah-rumahan, kursi sofa mini, tempat tidur mini (seperti bermain boneka barbie). Biasanya mereka akan menciptakan percakapan sendiri. Dalam bermain peran makro, anak berperan menjadi seseorang yang mereka inginkan. Bisa mama, papa, tante, polisi, sopir, pilot, dsb.
Dalam strategi pembelajaran dengan bermain peran ini kita sebagai pendidik dapat melakukan dua hal penting dalam kegiatan pembelajaran. Yakni adanya transfer of knowledges dan transfer of values yakni seni bagaimana kita memberi nilai disamping kita mentransfer pengetahuan kita.
Saat bermain peran ini bisa menjadi ajang belajar bagi mereka, baik belajar membaca, berhitung, mempelajari proses/alur, mengenal tata tertib atau tata cara di suatu tempat. Tentu saja kita hanya cukup memberikan informasi sebelum mereka mulai bermain, dan atau lebih baik kalau kita terlibat dalam permainan tersebut agar kita bisa menggali imajinasi dan mengenalkan informasi yang ingin kita kenalkan.
B. Model Pembelajaran dalam Bermain Peran

Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:

a. Secara implisit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’.
Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogi yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respon emosional sambil belajar.
b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran.

c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
Strategi mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan lama. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi
.
d. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Kemudian disinilah kita dapat melihat bahwa akan adanya interaksi antara siswa yang satu dan yang lain.
Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni
(1) kualitas pemeranan,
(2) analisis dalam diskusi,
(3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan
Ada tujuh tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran:
(1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik,
(2) memilih partisipan/peran,
(3) menyusun tahap-tahap peran,
(4) menyiapkan pengamat,
(5) pemeranan,
(6) diskusi dan evaluasi,
(7) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan.
Jika para pendidik benar-benar memaknai sebuah pembelajaran adalah sebagai suatu wahana membentuk dan menanamkan nilai pada siswa maka dengan sendirinya pembelajaran akan berjalan menyenangkan dan memberi makna mendalam pada siswa. Kemudian peningkatan kualitas manusia akan berjalan dengan sendirinya. Membentuk pribadi-pribadi intelek dengan tetap berpegang pada “hati”.
Penerapan Role Playing Dalam Pembelajaran
Misal :
Kita ingin mengenalkan tentang Pasar (jenis perdagangan, cara jual beli, berbagai jenis pedagang,profesi halal). Layout tempat bermain peran ini bisa diatur sedemikian rupa menjadi beberapa tempat yang berfungsi sebagai rumah, pasar, toko, jangan lupa selalu sediakan tempat untuk masjid. Sediakan peralatan yang mendukung, tentu saja boleh buatan sendiri misal bakul,dan peralatan dagang lainnya, kotak dijadikan sebagai timbangan. Harus ada uang mainan (tanamkan konsep bahwa agar barangnya halal untuk dimakan harus dibeli menggunakan uang). Misalnya barang dagangan adalah ikan. Kenalkan proses distribusi mulai dari ikan ditangkap nelayan, dijual ke pasar ikan, dibeli oleh pembeli dan dimasak oleh ibu (secara tidak langsung mengenalkan profesi halal). Saat makan, informasikan kandungan gizi apa saja yang ada dalam ikan. Untuk menuansakan agama, selalu diupayakan ada adzan di sela-sela mereka bermain, tidak lain membiasakan anak untuk berhenti bermain, melaksanakan sholat berjamaah, sesudah itu boleh meneruskan bermain. Pasang tulisan informasi jenis dagangan (misal di kotak tempat barang di pasar), nama tempat (masjid, pasar, rumah keluarga Amir, Inu, Santi dll). Kalo unsur berhitung, bisa saat menghitung ikan yang ditangkap atau yang dibeli….tentu saja semua informasi dikenalkan melalui percakapan antar pemain.Demikian aplikasi bermain peran dalam pembelajaran.
Kesimpulan
Melalui strategi pembelajaran bermain peran, siswa dapat meningkatkan kualitas komunikasi lisan sehingga interaksi siswa tetap terjalin. Selain itu juga bermain peran menjadi ajang bagi para siswa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini mengerucut membentuk sebuah pengalaman baru bagi siswa yang menunjang bertambahnya wawasan siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Mudjiono dan Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta kerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC
www.google.com. 5 oktober 2009. Nurasia. Thesis Penerapan model pembelajaran Role Playing untuk Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Drama.
www.dahli-ahmad.blogspot.com/2009/03. Model Bermain Peran dalam Pembelajaran.

3 comments:

  1. Lam kenal bu guru, kita tunggu kunjungan baliknya... Salam

    ReplyDelete
  2. yup... uda tak kunjungi maren. tapi belom sempat komen... salam balik. hidup guru!

    ReplyDelete
  3. ckckckc saluuuuuuuuuuuuuut buuuuu... btw wiwin punya buku tentang role playing gk??? loq da pinem dong....

    ReplyDelete

Mendongenglah...